Sat. Dec 5th, 2020

BLAM

KEREN

BLAM Sayangkan Razia Buku di Makassar

3 min read

Sejumlah buku yang dijual dipajang di toko buku. Sumber foto: dream.co.id

1,371 total views, 4 views today

MAKASSAR, BLAM – Balai Litbang Agama Makassar (BLAM) akhirnya angkat suara terkait razia buku Marxisme dan Leninisme di sejumlah toko di Makassar, belum lama ini. Peneliti BLAM menyayangkan aksi razia buku yang dilakukan kelompok atau organisasi tertentu.

“BLAM sangat menyayangkan pihak yang hendak merazia buku yang dinilai komunis. Razia ini menunjukkan mundurnya penghargaan terhadap dunia intelektual kita,” kata Kepala BLAM, H. Saprillah, M.Si, Senin, 5 Agustus 2019.

Aksi razia buku ini sempat menjadi perhatian publik Makassar. Aksi tersebut tidak hanya meresahkan masyarakat awam, tetapi juga kalangan intelektual dan akademisi. Dilansir dari beberapa media online, razia buku tersebut dilakukan Brigade Muslim Indonesia, di Toko Buku Gramedia, Trans Studio Makassar, Sabtu, 3 Agustus 2019.

Pepi, sapaan akrab Saprillah, menegaskan, aksi razia buku tidak bisa dilakukan secara subjektif. Ia pun berharap pemerintah melindungi geliat intelektualitas dari orang-orang yang ingin memaksakan kehendak.

“Jika tidak setuju dengan suatu gagasan, lawanlah dengan memerlihatkan gagasan yang lebih baik, dan jangan coba meredamnya. Sebab, tindakan seperti itu bisa menimbulkan dan membangkitkan perlawanan,” kata Pepi, yang juga mantan aktivis PMII, ini.

“Sebagai peneliti, kami tentu butuh banyak perspektif, termasuk perspektif yang misalnya kita tidak setujui. Ini untuk memperkaya wawasan peneliti saat menuangkan laporan penelitian dan tulisan untuk diterbitkan di jurnal-jurnal,” sambung Saprillah.

Selain Kepala BLAM, beberapa Peneliti BLAM ikut berbicara. Syamsurijal, misalnya. Peneliti Bidang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan BLAM, ini menyesalkan tindakan razia buku tersebut.

“Sebuah tulisan mestinya dilawan dengan tulisan pula. Kalau tidak menyetujui gagasan dari satu buku, kita harus melawan dengan membuat buku juga sebagai counter (tandingan). Orang atau kelompok yang hanya bisa merazia buku menunjukkan tidak siap beradu gagasan, dan miskin gagasan,” kata Syamsurijal, yang juga Ketua Lembaga Media Penerbitan dan Penerjemahan Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan, ini.

Menurut Syamsurijal, komunisme dan Marxisme tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan. Pada dasarnya, paham tersebut bahkan sudah terkubur dalam sejarah. Kalau saat ini ada negara yang dianggap masih berpaham komunisme, negara tersebut sejatinya tidak murni lagi menjalankannya.

“Saat ini, Marxisme di Indonesia lebih banyak menjadi kajian semata. Malah, banyak pula yang mengeritiknya. Ketakutan terhadap paham itu, jangan-jangan karena kita memang tidak paham dengan perkembangannya saat ini. Makanya, kita juga harus membaca supaya tahu,” kata Pembina Gusdurian Sulaewsi Selatan, ini.

Dr. Muhammad Rais, Peneliti Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan BLAM, menyatakan, sweeping atau razia buku merupakan tindakan melawan akal sehat, banal, dan paranoid.

“Dalam peradaban manusia, ini (razia buku) sebenarnya bukan gejala baru, dan bahkan sering terjadi. Tapi anehnya, masih saja banyak orang yang menempuh cara-cara seperti ini, yang tentu saja, melanggar hukum,” kata lulusan Doktoral Antropologi Universitas Hasanuddin, ini.

Meskipun tidak menyetujui isi sebuah buku, tapi bentuk protes sebaiknya dilakukan sesuai prosedural hukum yang berlaku.

“Sejak Oktober 2010, Mahkamah Konstitusi telah mencabut Undang-Undang tentang Pelarangan Buku (tertentu). Kalau tidak setuju dengan buku tersebut, jangan lantas melakukan kekerasan simbolik seperti itu. Sebaiknya menempuh dengan jalur keadaban, seperti jalur hukum dan pengadilan,” ujar Muhammad Rais.

“Kita harus menghormati buku sebagai khazanah ilmu pengetahuan. Apalagi, perintah pertama  agama Islam adalah membaca. Mestinya kita bersyukur apabila banyak orang atau lembaga yang memproduksi buku, dan bukan justru memberangusnya,” timpal Dr. Sabara, Peneliti Bidang Bimas Agama dan Keagamaan BLAM, yang juga muballigh pada Lembaga Dakwah Nurain Makassar. (ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *