Thu. Nov 26th, 2020

BLAM

KEREN

Sekolah (di) Tapal Batas  

3 min read

Penulis berfoto di sekolah tapal batas. Foto: Dok. pribadi

1,889 total views, 2 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

 Didorong oleh keprihatinan melihat masa depan anak-anak Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja pada perkebunan sawit di wilayah Sebatik Malaysia, Hajjah Suraidah, SKM, MnNSc, kemudian terpanggil menginisiasi hadirnya sekolah untuk memenuhi hak pendidikan anak-anak bangsa tersebut.

Anak-anak TKI, yang orang tuanya bekerja di wilayah Sebatik Malaysia, sama sekali tak tersentuh oleh pendidikan formal maupun pendidikan keagamaan. Pada awal membangun sekolah, Suraidah meminjam sebuah rumah warga di Pulau Sebatik, Kalimantan Utara, untuk kegiatan belajar-mengajar.

Pada awal-awal kegiatan, hanya sebuah madrasah diniyah tempat anak-anak TKI memperoleh pelajaran keagamaan. Akhirnya, melalui Yayasan Ar-Rasyid didukung Kepala Kecamatan Sebatik Tengah dan Kementerian Agama Kabupaten Nunukan, ia mendirikan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darul Furqan 2014.

Tujuannya, memfasilitasi anak-anak TKI untuk mendapatkan pendidikan formal dan pendidikan keagamaan. Madrasah yang didirikan Suraidah ini kemudian dikenal sebagai Sekolah Tapal Batas atau ada juga yang menyebutnya sebagai “Sekolah Kolong”.

Tentu saja, banyak kendala yang harus dihadapi Suraidah saat ingin mendirikan sekolah tersebut. Namun, berkat dukungan berbagai pihak, semua kendala itu bisa teratasi, sehingga ia mampu mewujudkan mimpinya mendirikan lembaga pendidikan anak-anak TKI.

Menurut Suraidah, mendirikan Sekolah Tapal Batas bukanlah perkara mudah. Untuk itu, ia harus selalu masuk ke daerah perkebunan Malaysia guna bertemu TKI, dan mensosialisasikan pentingnya pendidikan, serta meyakinkan TKI untuk menyekolahkan anak mereka. Belum lagi, Suraidah harus berurusan dengan Polisi Malaysia demi memperoleh izin masuk menemui TKI. Ia beberapa kali meyakinkan TKI, dan akhirnya mereka memercayakan anaknya bersekolah di MI Darul Furqan.

Kondisi anak-anak TKI tersebut, menurut Suraidah, cukup memprihatinkan dalam hal pembinaan keagamaan dan semangat kebangsaan. Namun, bagi Suraidah, di situlah tantangan terbesar dia untuk bagaimana menanamkan nilai keagamaan dan kebangsaan pada anak-anak TKI tersebut.

Kesibukan orang tua sebagai TKI yang bekerja sejak pagi hingga menjelang Maghrib, dan lingkungan keluarga, serta sosial yang tidak kondusif bagi pembinaan keagamaan, membuat anak-anak TKI sangat minim pengetahuan dalam pengamalan agama.

Demikian pula pada aspek wawasan kebangsaan. Karena lahir di wilayah Malaysia, anak-anak TKI sama sekali tak mengerti, bahwa mereka orang Indonesia. Umumnya, mereka hapal lagu kebangsaan Malaysia ”Negaraku”, tetapi tak hapal lagu Indonesia Raya. Dalam berkomunikasi, mereka menggunakan bahasa Melayu-Malaysia, dan cukup asing penggunaan bahasa Indonesia.

Perlahan, Suraidah dan para guru di sekolah menanamkan pembinaan dan pengamalan keagamaan kepada anak-anak TKI tersebut. Kepada anak-anak itu dijelaskan pula, bahwa mereka orang Indonesia dan harus berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia.

Kondisi pengamalan keagamaan dan wawasan kebangsaan anak-anak TKI yang menjadi siswa di Madrasah Darul Furqan, merupakan potret kondisi anak-anak bangsa yang terlahir dari orang tua TKI di Negeri Jiran. Pembinaan keagamaan adalah hal mustahil mereka dapatkan dari orang tua yang sibuk bekerja, dan umumnya berlatarbelakang pendidikan dan pemahaman keagamaan sangat minim.

Begitupula dengan semangat kebangsaan mereka. Terlahir di Malaysia membuat anak-anak tersebut tidak paham tentang Indonesia. Mereka hanya tahu mata uang ringgit, bukan rupiah. Mereka hapal lagu “Negaraku”, tetapi tak kenal lagu “Indonesia Raya”. Kondisi ini memantik tanggung jawab berbagai elemen, mulai pemerintah pusat maupun daerah, serta elemen bangsa lainnya untuk mengembalikan anak-anak Indonesia pada semangat kebangsaan negaranya.

Untuk memudahkan sistem pengajaran, siswa-siswi Madrasah Darul Furqan diasramakan di dalam kompleks sekolah. Sebab, jika harus pergi-pulang dari rumah mereka ke sekolah, jarak tempuh yang cukup jauh dengan kondisi akses jalan buruk, serta faktor keamanan bagi anak-anak tersebut.

Selain itu, dengan diasramakan pembinaan kepada anak-anak tersebut akan lebih maksimal, khususnya dalam menumbuhkan semangat keagamaan dan kebangsaan mereka. Masalah lain yang dihadapi adalah, ketiadaan dokumen identitas anak-anak tersebut. Mereka tak punya akte kelahiran, sehingga kesulitan untuk mendapatkan Nomor Induk Siswa Nasional.

Dengan difasilitasi Wakil Bupati Nunukan ketika berkunjung ke sekolah tersebut, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Nunukan menerbitkan akte kelahiran bagi semua siswa di Sekolah Tapal Batas.

Kondisi TKI yang umumnya tidak memiliki biaya untuk pendidikan anak-anak mereka, apalagi harus tinggal di asrama, membuat Suraidah mencari bantuan dari berbagai pihak yang tergerak untuk menolong pendidikan anak-anak TKI tersebut.

Untunglah, banyak donator yang membantu biaya pembangunan gedung sekolah dan asrama hingga biaya operasional sekolah. Di antaranya, PT Pertamina dan BNI. Saat ini, Sekolah Tapal Batas mengelola madrasah ibtidaiyah, madrasah diniyah, pendidikan anak usia dini (PAUD) dan kelompok belaar Paket A, B, dan C untuk anak-anak TKI. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *