Sat. Sep 26th, 2020

BLAM

KEREN

Guru Sarankan Radikalisme Dimasukkan dalam Modul Sekolah

2 min read

Para peserta tampak serius mengikuti pembahasan draft Modul Pencegahan Radikalisme di Sekolah, Kamis sore, 1 Agustus 2019. Foto: Fauzan

1,136 total views, 2 views today

MAKASSAR, BLAM – Radikalisme agama yang mulai merasuki anak-anak sekolah, membuat kalangan guru dilanda keresahan. Mereka pun menyarankan wawasan dan pengetahuan terkait radikalisme agama dimasukkan juga ke dalam modul sekolah.

Hal tersebut mengemuka saat berlangsungnya pembahasan kegiatan pengembangan (workshop) “Modul Pencegahan Radikalisme di Sekolah”, yang diadakan Peneliti Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), Kamis sore, 9 Agustus 2019.

“Modul radikalisme ini dapat diintegrasikan ke dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), dan perlu ditambahkan lagi satu kompetensi dasar berkaitan pemahaman radikalisme,” kata Muzakkir, Guru Agama SMA Negeri 17 Makassar.

Hal senada dikatakan Muhammad Ihsan. Perwakilan dari Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam (AGPAI) Wilayah Sulawesi Selatan, ini mengusulkan, isi modul sebaiknya juga memerhatikan kompetensi inti dan kompetensi dasar sesuai Permendiknas Nomor 37 Tahun 2018 tentang KI-KD. “Sistem pembelajaran sekarang banyak terpusat ke peserta didik mengikuti konsep kurikulum 2013 (K13),” ujarnya.

Koordinator Modul Pencegahan Radikalisme di Sekolah, Dr. Muhammad Rais, memberikan gambaran umum draft modul pencegahan radikalisme di sekolah. Menurutnya, kerangka modul ini sebelumnya telah didiskusikan dan disusun di Kota Balikpapan. Kerangka modul berisi materi tentang paham radikalisme, ciri-ciri radikalisme, dampak terhadap aspek sosial kemasyarakatan dan pendidikan, dan upaya pencegahan radikalisme.

Prof. Dr. H. Arifuddin Ismail, M.Pd., tim pengendali mutu Kelitbangan BLAM, menyarankan, rekonstruksi konsep radikalisme sebaiknya tertuang di dalam modul ini.

“Sekarang ini, konsep radikalisme banyak dipolitisir untuk kepentingan tertentu, sehingga dimaknai negatif. Padahal, dasar radikalisme itu bermakna positif. Karena itu, perlu juga dilakukan genealogi organisasi keagamaan supaya dapat ditelusuri awal kemunculan beberapa paham keagamaan,” kata Arifuddin.

Konsultan pembuatan modul, Prof. Dr. H. Hamdar Arraiyyah, MA, menyatakan, judul pengembangan ini sebaiknya diubah menjadi Modul Pemahaman dan Pencegahan Radikalisme di Sekolah. Kaidah bahasa perlu dibuat sesederhana mungkin, sehingga mudah dicerna oleh guru dan peserta didik.

“Dan, supaya mudah dipahami, tentu akan lebih bagus lagi kalau di dalam modul nanti dibuatkan diagram tentang radikalisme,” ujar Hamdar.

Narasumber kegiatan, Prof. Dr. H. Darman Manda, MU, berharap modul ini bisa diterapkan oleh semua guru, dan bukan hanya guru pendidikan agama Islam. “Karena pencegahan radikalisme di sekolah merupakan tanggungjawab kita bersama,” kata Darman. (zan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *