Sat. Sep 26th, 2020

BLAM

KEREN

Sitinaja, Kearifan Orang Bugis

3 min read

Orang Bugis dikenal banyak memiliki filosofi hidup. Sumber foto: Tribun Celebes

3,999 total views, 8 views today

Oleh: Saprillah (Kepala Balai Litbang Agama Makassar)

 Sitinaja, kosa kata dalam bahasa Bugis yang memiliki nilai filosofis tinggi. Artinya, tidak lebih tidak kurang. Kata ini memiliki beberapa padanan dalam bahasa Indonesia, seperti patut, layak, cocok, pantas, tahu diri.

Kata ini juga sepadan dengan kata proprosional dan adil. Assitinajang, berarti kemampuan diri untuk berada secara proporsional dalam sebuah situasi. Jika dikembangkan lebih epistemik, kata ini bisa menjadi fondasi dari pemahaman yang sekarang dikenal sebagai paham moderat.

Saya teringat kisah Nabi Sulaiman. Sebagai nabi yang juga raja, kaya raya, serta bisa berdialog dan memerintah makhluk lain, dia ingin mengucapkan rasa syukurnya kepada Tuhan dengan cara menjamu semua makhluk yang ada di kerajaannya. Persiapan pun digelar. Semua juru masak terbaik dihadirkan. Seluruh bahan makanan dari penjuru negeri disiapkan untuk menjamu semua makhluk Tuhan.

Konon, persiapan sajian ini memakan waktu hingga 40 hari 40 malam. Setelah selesai, Nabi Sulaiman mulai mengundang penghuni lautan. Datanglah seekor ikan besar sejenis Paus. Dalam beberapa kejap, satu ekor ikan besar ini melahap seluruh hidangan yang disediakan. Nabi Sulaiman terkejut, dan tersungkur memohon ampun atas kekhilafannya.

Kisah ini mengajarkan pentingnya mengenali batasan diri dan tidak melampauinya, asstinajangengi alemu (sesuaikan dengan dirimu). Setiap manusia dibatasi oleh dirinya sendiri. Manusia diciptakan berbeda-beda, dengan batas yang berbeda-beda pula. Keinginan yang melampui batas diri, bisa menjatuhkan manusia ke dalam keangkuhan, ujub, ghuluw dan pragmatisme.

Nabi Sulaiman memiliki niat yang sangat baik. Sebagai raja yang kaya raya, dia ingin melayani seluruh rakyatnya, baik manusia maupun hewan. Namun, Nabi Sulaiman lupa batasan dirinya sebagai manusia. Hidangan yang dikerjakan selama puluhan hari, ternyata hanya bisa melayani satu ekor ikan.

Kekacauan yang terjadi dalam sistem kehidupan kita dalam berbagai sektor, termasuk keagamaan, adalah kurangnya kemampuan mengenali batasan diri. Ada orang yang posisinya hanya pendengar, tetapi tampil sebagai penutur.

Saya sering menemukan orang yang mudah sekali menyalahkan praktik keagamaan orang lain tanpa melalui istinbath yang memadai. Dia hanya mendengarkan dari ustad-nya, yakin dengan itu, dan berusaha mengubah (membawa) orang lain seperti yang dia yakini. Dia benar tetapi lupa batasan dirinya. Lupa pula mengenali orang yang disalahkannya.

Fenomena ini mudah sekali ditemukan di berbagai grup diskusi berbasis media on-line. Ghirah dakwah tidak dibarengi “pengenalan batas diri dan batas orang lain”. Yang terjadi kemudian bukan “penyebaran” kebenaran, tetapi debat antara dua orang yang sama-sama tidak mengerti batas dirinya sebagai penyimak, pendengar, dan thalibul haq (pencari kebenaran).

Sitinaja bisa pula bermakna reflektif. Kadang-kadang kita terjebak dalam kesadaran palsu atas kebenaran. Banyak di antara kita (kalau tidak menyebut semuanya) bisa menilai dan memberi nasihat kebenaran kepada orang lain, tetapi kadang-kadang gagal untuk diri kita sendiri. Kita bisa berkhotbah tentang kejujuran dengan durasi waktu panjang tetapi kadang-kadang kita gagal mempraktikkannya.

Contoh lebih sederhana. Saat remaja, kita begitu kesal ketika orang tua melarang-melarang atau mendominasi kita. Tetapi ketika menjadi orang tua, kita pun menggunakan standar yang dulu kita tidak sukai kepada anak-anak kita. Atau, contoh dalam dunia riset. Ketika seorang peneliti mempresentasikan hasil risetnya, semua orang percaya sepenuhnya kecuali satu orang; peneliti sendiri.

Pendekatan sitinaja membuat kita menjadikan pengalaman personal sebagai pengendali untuk tidak berlebih-lebihan atau terlalu percaya diri.

Para sufi punya adagium man arafah nafsahu faqad arfah rabbahu. Siapa yang mengenali dirinya berarti telah mengenali Tuhannya. Orang Bugis menyimpulkannya dalam satu kata saja, sitinaja. (*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.