Sat. Sep 26th, 2020

BLAM

KEREN

Prof Arif Bimbing Dua Peneliti di Manado

2 min read

Peneliti BLAM bertemu Kepala Kanwil Kemenag Sulawesi Utara, H. Abd. Rasyid, di ruang kerjanya. Foto: Dok. Pribadi

1,400 total views, 6 views today

MANADO, BLAM — Peneliti Ahli Utama Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), Prof. Dr. H. Arifuddin Ismail, M.Pd, membimbing peneliti yang tengah melakukan penelitian di Manado, Sulawesi Utara, yakni Asnandar dan Amiruddin.

Asnandar melakukan riset tentang Pengelolaan dan Pemberdayaan Guru Honorer di Madrasah, sedangkan Amiruddin meneliti Implementasi Kebijakan Pengangkatan Guru Agama di Sekolah Umum.

Sebagai kalimat pembuka pembimbingan, Selasa, 16 Juli 2019, Prof Arif, sapaan akrab Arifuddin, menanyakan kepada peneliti sudah sejauhmana proses penelitian mereka, bagaimana data yang terkumpul, serta kendala yang dihadapi peneliti. Pertanyaan ini diajukan, karena dua peneliti ini sudah hampir sepekan berada di Manado.

Peneliti Amiruddin dan Asnandar mengemukakan, data yang mereka kumpulkan mencapai sekitar 70 persen, baik data primer maupun data sekunder.

“Data primer untuk penelitian kebijakan pengangkatan guru agama banyak didapatkan melalui wawancara dari informan inti, seperti pejabat dari Diknas Kota, Diknas Provinsi, BKD Kota, Penyelenggara Kristen, Katolik, Budha, dan Hindu,” kata Amiruddin.

“Untuk penelitian pengelolaan dan pemberdayaan guru honorer, data primer yang saya dapatkan bersumber dari beberapa kepala madrasah dan guru honorer di beberapa madrasah. Sedangkan data sekunder saya peroleh dari data guru agama dan guru honorer di kementerian agama dan BPS,” sambung Asnandar.

Amiruddin dan Asnandar sama-sama mengaku menemui kendala. Namun, mereka bisa mengatasi kendala tersebut. Lagipula, kendala itu tidak mengganggu jalannya pengumpulan data mereka.

“Cuma kendala teknis. Misalkan, saat kami mau bertemu pejabat pengambil kebijakan di sebuah instansi, tetapi pejabat bersangkutan ternyata tidak berada di tempat. Kalau sudah begini, kami harus menunggu, dan membuat jadwal pada waktu lain,” kata Amiruddin, yang diangguki Asnandar.

Untuk menguatkan data penelitian yang telah terkumpul, kata Prof Arif, data tersebut harus didalami dan kemudian diinterpretasi dengan baik, sehingga ketika ada data yang dirasakan masih kurang perlu dikonfirmasi kembali ke narasumber atau informan penelitian.

Prof Arif, yang berada di Manado selama lima hari, 15-19 Juli 2019, menyatakan, keakuratan data penelitian tergantung pada kejelian peneliti. Makanya, peneliti mesti mampu melihat fenomena dari berbagai sudut pandang.

Penelitian pengangkatan guru agama, misalnya, peneliti sebaiknya menelusuri sampai ke sekolah dan mengamati bagaimana proses analisis kebutuhan guru, apa kendala-kendala yang dihadapi sekolah, sehingga sekolah tersebut kekurangan guru agama.

Nah, untuk guru honorer, sebaiknya penamaan digunakan guru non PNS atau guru tidak tetap (GTT) agar memudahkan proses penginputan data administrasi pada aplikasi pegawai seperti pada SIMPATIKA,” kata mantan Kepala Balai Litbang Agama Semarang, ini.

Prof Arif melanjutkan, pengelolaan guru honorer secara baik tergantung kepada kepala madrasah. Manajemen kepala madrasah yang baik dapat memberdayakan guru honorer secara efesien dan efektif. Olehnya itu, perlu menggali data lebih banyak ke kepala madrasah.

“Untuk penelitian kualitatif, peneliti harus betul-betul fokus dan kerja ekstra dalam menggali data, karena keakuratan data tergantung kejelian peneliti. Instrumen pengumpulan data adalah peneliti itu sendiri. Karena itu, peneliti juga harus memerhatikan dan menjaga kesehatan, istirahat yang cukup, dan memerhatikan pola makan,” imbuhnya.

Sebelumnya melakukan pembimbingan, dua peneliti menemani Prof Arif menemui sekaligus bersilaturahmi ke Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Utara, H. Abd. Rasyid. Mereka berkunjung ke kanwil bersama tokoh masyarakat, H. Halil Domu. (dal)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.