Sun. Apr 5th, 2020

BLAM

KEREN

Jamaah Tabligh Perbatasan Berdakwah Hingga PNG

4 min read

Penulis (paling kanan) bersama rekan peneliti Balai Litbang Agama Makassar di pos perbatasan Indonesia - Papua Nugini. Foto: Dok. Pribadi

1,663 total views, 4 views today

Oleh: Muh. Irfan Syuhudi (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

 PRIA berbaju gamis panjang hitam dan bersongkok haji itu, terlihat sibuk melayani empat orang Papua Nugini (PNG) di dalam tokonya. Menggunakan bahasa Inggris Pidjin, bahasa resmi PNG, lelaki asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, itu meladeni satu per satu pertanyaan yang mereka ajukan.

Di sela-sela berbicara, pria ini terkadang pula memperlihatkan beberapa gambar desain grafis pada sebuah komputer, yang diletakkan di belakang pintu masuk toko. Sekitar 30 menit berikutnya, mereka berlima terlibat obrolan serius.

Oke, hari Sabtu depan kami datang lagi ke sini. Terima kasih banyak telah membantu kami,” kata salah satu dari empat orang PNG, sambil keluar toko. Dari raut wajah, saya melihat mereka tampak senang. Selanjutnya, mereka melangkah menuju ke arah gerbang tapal batas. Barangkali, mereka ingin balik ke negaranya.

Saya akhirnya mengetahui apa yang dkatakan orang PNG sebelum pamitan tadi, setelah diterjemahkan oleh pria bergamis panjang hitam, dan bersongkok haji, ini.

Di tapal batas negara Indonesia – PNG, Kampung Mosso, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Papua, pria ini kerap dipanggil Haji Salam (samaran). Ia pemilik toko yang dimasuki empat orang PNG tadi. Tokonya terletak di kawasan Pasar Wutung, perbatasan Indonesia – PNG.

Di sepanjang jalan ini, beberapa warung atau toko berdiri. Beberapa di antaranya, orang Bugis-Makassar. Bahkan, di dalam pasar Wutung, hampir semua penjualnya orang Bugis-Makassar.

Jadi, bagi orang Bugis-Makassar, memasuki pasar ini seolah-olah berada di kampung halaman. Selain penjualnya kadang bercakap-cakap pakai bahasa Bugis atau Makassar, mereka pun berbahasa Indonesia menggunakan dialek khas (geografis) Makassar.

Ada delapan kelurahan/kampung di Distrik Muara Tami, yaitu Kelurahan Koya Barat, Kelurahan Koya Timur, Kampung Koya Tengah, Kampung Holtekam, Kampung Skow Mabo, Kampung Skow Yambe, Kampung Skow Sae, dan Kampung Mosso. Dari delapan itu, tapal batas negara masuk wilayah Mosso.

Merujuk pada Kota Jayapura dalam Angka 2016, penganut Islam tercatat paling banyak di Muara Tami, yaitu 11.419 jiwa, sedangkan Kristen berjumlah 7.095 jiwa, Katolik, 3.763 jiwa, Hindu, 70 jiwa, dan Buddha, 10 jiwa.

Sementara, berdasarkan data di Distrik Muara Tami 2017, penganut Islam terbanyak berada di Koya Barat dan Koya Timur. Ketika pemerintah membuka program transmigrasi di Muara Tami awal 1980-an, dua daerah ini menjadi prioritas utama transmigran.

Saat itu, migran yang datang kebanyakan berasal dari Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Para migran ini pun umumnya memeluk Islam.

Kehadiran orang Jawa di Koya Barat dan Koya Timur, ikut pula mendongkrak laju perekonomian daerah tersebut. Dua kelurahan ini terlihat paling maju dan padat pendudukya di Muara Tami.

Budaya Jawa juga terlihat sangat kental di Koya Barat dan Koya Timur. Ketika akan berlangsung pesta upacara sosial, seperti pernikahan dan sunatan, mereka kerap mengadakan pagelaran wayang kulit semalam suntuk dan reog. Dalang dan perlengkapan wayang dan reognya didatangkan khusus dari Jawa.

Khuruj ke Pelosok Papua Nugini

Haji Salam menyatakan, orang PNG itu meminta dibikinkan desain lambang sekolah dari komputer. Mereka sebenarnya membawa contoh lambang sekolah sendiri. Namun, lambang itu ternyata masih dalam bentuk sederhana; hanya dilukis di atas kertas, dan belum berwarna.

“Saya yang kemudian mendesain ulang lambangnya di komputer, sekaligus memberikan warna-warni di sana-sini. Mereka rupanya suka dengan desain saya, dan warna-warna yang saya berikan pada lambang sekolah mereka,” jelas Salam.

Haji Salam sudah lama bekerjasama dengan orang PNG. Ia pun punya sejumlah langganan orang-orang dari “sebelah”. Bukan cuma urusan lambang sekolah tadi, melainkan juga ada yang lain. sekarang ini, ia menerima banyak pesanan baju kaos untuk disablon.

“Itu, di sana, ada dua karung orderan orang PNG,” katanya, menunjuk dua karung besar yang tergeletak di lantai.

Sebagai pendatang, Haji Salam termasuk salah satu “penghuni” lama, dan orang non Papua, yang bermukim di tapal batas. Hanya, ia tidak tahu kapan mulai tinggal di tapal batas negara ini. “Saya sudah lupa tahun berapa. Yang saya ingat, saya sempat melihat semua pasar di sini tiga kali terbakar,” ujarnya.

Selain berwiraswasta, yang menarik dari Haji Salam adalah aktivitas keagamaan yang ia geluti sejak beberapa tahun ini. Bersama istri tercinta, Hajjah Nani (samaran), ia aktif memilih jalur dakwah di Jamaah Tabligh (JT). Bahkan, belum lama ini (2019), ia bersama istri bertolak ke India selama beberapa bulan mengikuti kegiatan JT.

Bersama komunitasnya, ia ingin mengajak orang Islam ke jalan kebaikan sesuai tuntutan syariat Islam. Salah satunya, menganjurkan memakmurkan masjid atau shalat berjamaah di masjid. “Buat apa masjid dibangun megah, tetapi jamaahnya sepi,” katanya.

Sudah tak terhitung lagi tempat-tempat terpencil di Indonesia ia datangi untuk khuruj (meluangkan waktu secara total untuk berdakwah di suatu tempat tertentu. Minimal dilakukan empat bulan dalam seumur hidup, atau 40 hari setiap tahun), termasuk menembus ke pelosok-pelosok wilayah PNG.

Saat berdakwah di PNG, ia dan rekan-rekannya sesama JT Malaysia dan India, mengislamkan beberapa orang PNG.

Kelompok JT di Muara Tami cukup banyak. Hubungan mereka selama ini akur-akur saja dengan kelompok keagamaan lain, seperti NU, Muhammadiyah, LDII, dan Wahdah, yang ada di Muara Tami dan Jayapura.

“Waktu kondisi di tapal batas belum semegah ini, saya sering mengajak teman-teman JT dari Malaysia dan India berdakwah ke daerah terpencil di Indonesia dan PNG. Alhamdulillah, mereka semua merespon baik kehadiran kemi, termasuk orang-orang PNG di negaranya,” katanya.

Identitas keislaman yang melekat pada pakaian Haji Salam dan istrinya, tidak membuat mereka berjarak dengan lingkungan sekitar, terutama non muslim. Relasi sosial Haji Salam, yang juga pengurus masjid di tapal batas, Masjid Al-Hijrah, malah tampak harmonis. Demikian pula istrinya, yang dalam keseharian mengenakan jilbab panjang dan bercadar.

Orang non muslim di perbatasan, terutama orang asli Papua dan Jayapura (fort numbay), menganggap bukan sesuatu yang unik melihat penampilan keseharian pasangan suami istri ini, yang dicirikan dengan simbol Islam.

Sejauh ini, setelah hampir 10 tahun menetap di tapal batas, relasi di antara mereka baik-baik saja. Istri Haji Salam juga berinteraksi dan berkomunikasi dengan semua orang di tokonya. Ia ikut meladeni pembeli laki-laki dan perempuan yang berkunjung ke tokonya, hingga melakukan transaksi. (*)

More Stories

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.