Sat. Apr 4th, 2020

BLAM

KEREN

Gerakan Sosial Keagamaan Aktivis Perempuan Masjid

4 min read

Ibu-ibu sering belajar Al-Quran di masjid kompleks perumahan mereka. Foto: timurindonesia.com

2,366 total views, 2 views today

Oleh: Syamsurijal (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Tidak seperti lazimnya yang ingin berlama-lama ke mall, sore itu, istri saya justru mengajak cepat-cepat pulang.  Tentu saja, walau sedikit heran, ajakan pulang cepat itu saya sambut semringah. Saya sendiri bukan tipikal orang yang senang berlama-lama di mall, apalagi kalau hanya untuk belanja.

Sepanjang perjalanan pulang, matanya sibuk memerhatikan gerak-gerik awan yang semakin lama mengumpul menjadi mendung. Cuaca hari itu perlahan memang menjadi kelam. Awan hitam menggantung di angkasa, dan sepertinya tidak menunggu waktu lama akan runtuh ke bumi.

Kali ini, sepertinya “mendung tak berarti hujan” tidak berlaku. Sebab,  begitu tiba di rumah, hujan bagaikan beribu-ribu panah menghunjam ke bumi. Suaranya bergemuruh menindih suara adzan Magrib yang sesayup terdengar dari menara masjid dekat rumah.

Paras istriku terlihat sengkarut menyaksikan hujan yang menderu-deru itu. “Mengapa?” tanyaku. “Malam ini saya harus ke masjid, ada pengajian, baca Al-Qur’an bersama-sama, tapi hujan turun begitu deras,” ucapnya, gelisah.

Saya tercenung. “Itu rupanya yang membuat istri saya tak ingin berlama-lama di mall,” batinku. Tapi, tentu saja, kalimat yang tersusun rapi di dalam hatiku hanya melingkar-lingkar di dalam benak. Tidak terlontar keluar dari mulut.

Beberapa hari terakhir ini, istri saya memang ikut mengaji bersama ibu-ibu di masjid kompleks perumahan. Mereka belajar membaca kitab suci tersebut. Ibu-ibu itu, demikian keterangan istri, bermacam-macam tingkat kepandaiannya membaca Al-Quran. Ada yang baru mengeja, sudah lancar, dan yang baru pertama kali belajar.

Setiap orang dalam sepekan belajar dua kali. Kegiatannya belajar mengaji dibagi tiga kelas; kelas pagi, sore, dan malam. Pada penghujung pekan, yang biasanya mereka berkumpul melakukan pengajian membaca Al-Quran, kali ini agak berbeda. Mereka menggelar kajian agama.

Organisator, guru mengaji, dan yang memberi kajian adalah juga kaum perempuan. Mereka adalah para aktivis perempuan dari salah satu organisasi Islamis.  Para aktivis perempuan Islamis itu tak menetapkan tarif. Ibu-ibu hanya memberikan sumbangan seikhlasnya.

Islamic Awakening (Kebangkitan Islam)

The Women’s Mosque Movement, begitu Saba Mahmud (2011), memberikan istilah pada gerakan perempuan muslim semacam ini.  Pada penelitian etnografinya terkait perempuan Mesir seputar 1995-1997,  Saba menemukan model gerakan perempuan muslim semacam ini sebagai bagian dari gerakan Islamic Awakening (al-Sahwa al-Islamiyyah) atau kebangkitan Islam.

Menariknya, gerakan perempuan Islam ini tidak menolak gerakan Islamisme, yang oleh sementara akademisi, dianggap bentuk keagamaan ortodoks yang berpotensi menindas perempuan. Sebaliknya, perempuan-perempuan tersebut malah menjadi bagian di dalamnya, tetapi sekaligus membangun model pemberdayaan perempuan yang berbeda dari kaum feminisme liberal-progresif.

Perempuan-perempuan tersebut ikut berkiprah di ruang publik; belajar mengaji, masuk dalam klub sastra, melakukan kajian Islam, tetapi tetap dalam ruang-ruang yang diasumsikan ‘Ortodoksi Islam’ oleh sementara kalangan. Mereka melakukan secara eksklusif, hanya bersama dengan perempuan saja. Ini mengikuti pandangan umum kaum Islamisme, bahwa ruang antara perempuan dan laki-laki tidak boleh sama.

Di dalam pembedaan, yang diasumsikan diskriminatif oleh feminisme liberal, perempuan-perempuan muslim ini justru membangun model pemberdayaan sendiri. Gerakan ini sekaligus menentang konsepsi-konsepsi feminisme liberal yang marak di dunia saat ini.

Hal-hal yang dianggap sebagai subordinasi perempuan atas otoritas laki-laki seperti rasa malu, kerendahhatian, tidak bisa berbaur dengan lelaki atas nama kesopanan, justru digunakan dalam gerakan-gerakan pemberdayaan kaum perempuan muslim ini.

Dengan tetap menggunakan idiom-idiom yang dianggap ortodoks itu, aktivis perempuan muslim di Mesir mampu memberdayakan sesama perempuan.Bahkan, gerakan mereka sampai menyentuh soal pemberdayaan ekonomi keluarga.

Konon, menurut istri saya, pengajian perempuan di kompleks perumahan kami, juga membicarakan soal pemberdayaan ekonomi, kendati hanya sekilas pintas, karena masih terfokus pada belajar membaca Al-Qurannya.

Dalam kasus gerakan pemberdayaan perempuan masjid ini, ternyata idiom-idiom yang diasumsikan menindas, justru bisa digunakan sebagai jalan pemberdayaan.  Persis kata Saba Mahmud (2011):

In other words, women’s subordination to feminine virtues, such as shyness, modesty, and humility, appears to be the necessary condition for their enhanced public role in religious and political life.”

Mungkin letak persoalan dari feminisme liberal adalah salah mengenali bentuk-bentuk perlawanan (pemberdayaan) perempuan, khususnya perempuan dunia ketiga, lebih khusus lagi perempuan muslim.

Jauh sebelum Saba Mahmud,  Leela Abu-Lughod (1990), sudah mengajukan atu pertanyaan provokatif: “Bagaimana kita bisa mengenali contoh-contoh perlawanan perempuan dengan “salah menafsirkan bentuk-bentuk kesadaran atau politik yang bukan bagian dari pengalaman mereka?”

Dan, demikianlah, apa yang ditunjukkan perempuan Mesir dan perempuan-perempuan di kompleks saya, menunjukkan adanya bentuk kesadaran pemberdayaan yang berbeda itu.

Sayangnya, yang saya amati hanya terbatas di seputar kompleks di mana saya tinggal. Maka,  yang menonjol di sini hanya gerakan dari para perempuan aktivis Islamis tersebut.

Di luar sana, di lingkungan yang berbeda, saya yakin kelompok muslim tradisionalis, seperti Muslimat NU dan Fatayat NU, juga tengah berjibaku dengan model pemberdayaan lainnya. Apakah lantas gerakan pemberdayaan mereka juga menantang feminisme liberal ? Entahlah.

Sementara itu, hujan yang tadinya bagai ditumpahkan dari langit, perlahan-lahan reda. Kini, yang tersisa tinggal hujan yang berinai-rinai. Tetesannya yang mulai jarang itu, lembut menyentuh atap rumah.

Seiring adzan Isya yang mulai mengalun lembut di angkasa, istri bergerak meraih payung. Parasnya yang tadi gelisah, kini terlihat semringah. Malam itu, ia tetap bisa menghadiri pengajian di masjid kompleks. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.