Thu. Nov 26th, 2020

BLAM

KEREN

Prof Kadir Ahmad: Kuantitatif Bukan Hanya Angka-Angka

2 min read

Peneliti Ahli Utama BLAM, Prof. Dr. H. Abd. Kadir Ahmad, saat melakukan pembimbingan kepada peneliti BLAM, Sitti Arafah, di Hotel Grand Jatra, Balikpapan, Selasa, 16 Juli 2019. Foto: Dok. Pribadi

1,044 total views, 2 views today

BALIKPAPAN, BLAM – Peneliti Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), Sitti Arafah, mendapat bimbingan dari Peneliti Ahli Utama, Prof Dr. H. Abd. Kadir Ahmad, terkait penelitian yang ia lakukan berjudul “Efektivitas Pelayanan Bimbingan Manasik Haji pada Kantor Kementerian Agama di KTI.”

Untuk melakukan pembimbingan, mantan Kepala BLAM itu terbang ke Balikpapan, Kalimantan Timur, yang menjadi salah satu lokasi penelitian Arafah. Selain Balikpapan, Arafah juga meneliti di Kota Tarakan dengan judul yang sama. Tema penelitian ini memang mengambil lokasi dua kota berbeda di satu provinsi.

Saat pembimbingan berlangsung di lobi Hotel Grand Jatra Balikpapan, Selasa, 16 Juli 2019, Kadir Ahmad, meminta peneliti untuk memaparkan kendala-kendala yang ditemui di lapangan, serta apa saja yang telah dilakukan di lapangan.

Arafah mengaku telah memberikan angketnya kepada petugas survei. Namun, kata dia, sebelum memberikan angket tersebut kepada petugas survei untuk diedarkan, ia terlebih dulu melakukan coaching, sekitar beberapa jam. Tujuannya, supaya petugas survei memahami tugas yang diberikan kepadanya.

“Beberapa petugas survei sudah menjalankan dan memberikan angket kepada responden terpilih. Alhamdulillah, dari informasi yang saya dengar dari petugas survei, pekerjaan mereka berjalan lancar,” kata Arafah, yang bertindak sebagai koordinator penelitian ini.

Responden penelitian ini adalah jamaah haji yang berangkat ke “Tanah Suci” pada 2018, sedangkan jenis penelitian adalah kuantitatif. Sementara itu, untuk konteks Balikpapan, jumlah responden yang akan dicari sebanyak 103 orang.

Setelah mendengarkan penjelasan peneliti secara lisan, Kadir Ahmad kemudian menyarankan untuk melakukan wawancara terhadap beberapa responden terpilih.

“Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang dapat dilihat melalui pencapaian angka-angka. Tetapi, apakah hanya berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Sebab, jika hanya berpatok pada angka-angka, penelitian kuantitatif tentu menjadi kering,” kata Kadir Ahmad, yang pernah menjabat Kepala Balai Diklat Kemenag Makassar, ini.

“Jadi, peneliti sebaiknya tidak berhenti pada angket yang telah terkumpul, melainkan juga mewawancarai responden. Dari sini, kita lantas mengetahui apakah pelayanan yang diberikan kemenag telah berjalan baik? Lalu, apakah pelaksanaan manasik di kemenag sudah menjadi pilihan utama calon jamaah haji, dan lain sebagainya,” lanjut mantan Ketua Tanfidz NU Kota Makassar, ini.

Karena riset ini hendak melihat pelayanan manasik haji di kementerian agama, peneliti diminta, selain melakukan wawancara terhadap beberapa responden, juga mewawancarai pihak kementerian agama, supaya data yang diperoleh lebih mendalam dan berimbang.

“Nantinya, penelitian ini menjadi informasi yang menunjukkan indikator dan item mana pelayanan manasik haji oleh kementerian agama yang dianggap efektik atau sebaliknya, belum efektif. Sehingga, perlu adanya rekomendasi sebagai upaya peningkatan kinerja kementerian agama,” jelas mantan Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Gorontalo, ini. (sta)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.