Sat. Dec 5th, 2020

BLAM

KEREN

Kepala BLAM Dampingi Peneliti ke Perbatasan Papua Nugini

3 min read

Kepala Balai Litbang Agama Makassar, H. Saprillah, M.Si (ujung kiri), melakukan pembimbingan kepada empat peneliti di Kota Jayapura. Foto: Istimewa

1,086 total views, 4 views today

MAKASSAR, BLAM – Kepala Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), H. Saprillah, M.Si, melakukan pembimbingan selama empat hari terhadap empat peneliti yang melakukan riset di Kota Jayapura, Papua. Mereka adalah Muhammad Irfan Syuhudi, Paisal, Syarifuddin, dan Ahmad Sarillah.

Meski berada satu di lokasi, empat peneliti ini mengangkat judul berbeda. Muhammad Irfan Syuhudi dan Paisal, misalnya, meneliti “Dinamika Kebangsaan dan Keagamaan pada Masyarakat Perbatasan di Jayapura”. Sasaran penelitian mereka adalah Distrik Muara Tami, Jayapura, yang berbatasan langsung dengan negara Papua Nugini (PNG).

Sedangkan Syarifuddin dan Ahmad Sarillah, masing-masing meneliti “Konten Khutbah Jumat di Perkotaan” dan “Efektivitas Pelayanan Bimbingan Manasik Haji pada Kementerian Agama di Kawasan Timur Indonesia.”

Sejak kedatangan di lokasi penelitian, Jumat, 12 Juli 2019, Saprillah terlihat cukup intens melakukan pembimbingan.

Sehari setelah kedatangannya di Jayapura, orang nomor satu di Balai Litbang Agama Makassar ini, ikut pula mendampingi peneliti melakukan observasi dan wawancara hingga ke tapal batas negara Indonesia – PNG, di Kampung Mosso, sekitar satu jam lebih perjalanan dari Distrik Abepura dengan mobil.

Ia ingin melihat secara langsung apa yang dilakukan “anak buahnya” saat mengumpulkan data di lapangan. Karena itu, di sela-sela perjalanan di dalam mobil (pergi dan pulang), peneliti menggunakan untuk mendiskusikan kira-kira angel apa saja yang dianggap tepat untuk dijadikan pokok pembahasan di dalam laporan penelitian.

Menurut Pepi, panggilan akrab Saprillah, secara sosio-ekonomi, masyarakat Indonesia di wilayah perbatasan terlihat lebih maju ketimbang orang PNG. Kondisi ini berbeda dengan orang Indonesia yang bermukim di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur, yang berbatasan dengan negara Malaysia.

Gerbang perbatasan Indonesia di Distrik Muara Tami, Jayapura, terlihat lebih megah ketimbang gerbang perbatasan milik PNG. Sehingga, ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik maupun orang PNG untuk mengabadikan diri ketika berada di wilayah Indonesia.

“Dengan melihat gerbang tapal batas Indonesia yang megah, kita sudah bisa melihat, bahwa negara Indonesia lebih maju daripada PNG. Bagi kita orang Indonesia, ada semacam kebanggaan melihat tapal batas negara kita lebih megah. Tapal batas ini semacam pencitraan Indonesia terhadap PNG,” kata Pepi.

“Untuk melihat dinamika keagamaan di wilayah perbatasan, peneliti bisa memulai dari bagaimana perkembangan Islam dan non muslim di daerah ini. Selanjutnya, paham keagamaan apa yang terlihat lebih dominan, bagaimana relasi sosial dan relasi antarpemeluk agama, dan seterusnya,” sambung Pepi.

Untuk penelitian “Konten Khutbah Jumat di Perkotaan, Pepi mengusulkan kepada penelitinya, Syarifuddin, untuk merekam semua isi khutbah Jumat, dan kemudian mentranskripnya. Minimal 10 khutbah Jumat.

“Karena penelitian ini menggunakan analisis wacana, peneliti sebaiknya merekam dan mentranskrip isi ceramah khutbah Jumat. Nah, dari sini, kita bisa mengetahui apa ideologi khatib, termasuk saat khatib mengutip teks-teks ayat Al-Quran. Dari sini pula, kita bisa menelusuri apa latar pendidikan khatib, organisasinya, dan lain sebagainya,” jelas Pepi.

Peneliti juga diimbau untuk melakukan kategorisasi isi ceramah ke dalam beberapa tema. Misalkan, tema umum dan tema khusus. Tema khusus ini bisa menyangkut isu-isu lokal ke-Papua-an, seperti toleransi, kerukunan umat beragama, nasionalisme, dan sebagainya. “Sebab, rekomendasi penelitian ini adalah untuk mengetahui peta-peta dakwah di Jayapura,” kata Pepi.

Ahmad Sarillah, mengaku, dari 66 angket yang dibawa, sebagian angket sudah diedarkan kepada responden terpilih, yakni mereka yang berangkat haji pada 2018.

“Kalau menggunakan kuantitatif, kita harus ketat sejak awal di metodologi penelitian.  Termasuk, salah satunya, penentuan responden. Kalau memang sejak awal ditentukan respondennya adalah mereka yang berangkat haji tahun 2018, maka kita harus mematuhi seperti itu. Makanya, peneliti harus melakukan coaching kepada petugas survei yang akan membantu mengedarkan angket, supaya mereka tidak salah memilih responden” kata Pepi. (ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.