Sun. Apr 5th, 2020

BLAM

KEREN

Ke Manado? Jangan Lupa Tiga “B” dan Jalan Roda

4 min read

Peneliti duduk-duduk di Boulevard, Manado. Kawasan ini termasuk salah satu tempat nongkrong di Manado. Foto: Dok. pribadi

1,355 total views, 8 views today

Oleh: Asnandar Abubakar (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

PESAWAT yang kami tumpangi berputar-putar sekitar 1,5 jam saat memasuki wilayah udara Kota Manado. Pesawat tidak bisa langsung mendarat di Bandar Udara Sam Ratulangi, Manado, disebabkan cuaca saat itu buruk; langit gelap, awan hitam, dan hujan. Sungguh suasana mendebarkan!

Bayangkan, berada di dalam pesawat di atas udara dengan kondisi cuaca seperti itu, sungguh sesuatu yang mencekam. Alhasil, pesawat harus menunggu dan berputar-putar di atas udara, sembari menunggu cuaca baik dan toleransi jarak pandang pilot terpenuhi untuk bisa mendarat.

Dari cabin attendant diumumkan, kami berada pada antrian ketiga untuk mendarat. Masih ada dua pesawat lagi berada pada posisi holding area untuk menunggu mendarat. Akhirnya, setelah sekian lama lama menunggu, pesawat diizinkan mendarat.

Suasana penumpang di dalam pesawat mendadak hening. Semua penumpang tampak khusyu berdoa di kursinya masing-masing. Ada yang mulutnya terlihat komat-kamit membaca doa. Ada pula yang duduk terpaku sambil merapalkan doa di dalam hati. Kami semua berharap tidak terjadi apa-apa pada saat pesawat akan mendarat.

Setelah melalui descending, pesawat berhasil mendarat, meski mengalami goncangan pada landasan yang licin akibat guyuran hujan. Begitu pesawat berhenti, semua penumpang bersorak gembira, sambil tak lupa mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Keesokan hari, kami (saya dan teman kantor, Amiruddin), kembali melakukan aktivitas. Padahal, badan kami masih terasa letih, lantaran peristiwa kemarin. Rute Makassar – Manado, yang normalnya ditempuh 1 jam 35 menit, sempat mengalami delay di atas udara sekitar beberapa jam.

Boulevard, Bubur, Bunaken, Jarod

Tanpa disadari, perut kami menagih untuk diisi. Kami lapar. Kami lalu memutuskan mencari kuliner di kawasan Boulevard. Kawasan ini berada di Jalan Piere Tendenan, diremiskan 1993. Dulunya, kawasan ini adalah laut, yang kemudian “disulap” menjadi kawasan pertokoan, perkantoran, hotel, dan mall.

Sejak itu, kawasan ini berkembang pesat dengan banyaknya pusat perbelanjaan dan beberapa hotel yang dibangun. Antara lain, Manado Town Square (Mantos) 1, 2, dan 3, Mega Mall, IT Center, dan Bahu Mall.

Di belakang mall-mall banyak ditemui warung makan dan kedai kopi modern maupun bernuansa lokal. Tak ketinggalan pula, pedagang kaki lima yang ditata rapi, sehingga kelihatan teratur dan bersih. Bagi pecinta kuliner, tempat ini wajib dikunjungi. Masakan khas Manado dapat ditemui di sini, seperti Mie Cakalang, Nasi Goreng Roa, Rahang Tuna Bakar, Oci Bakar, dan Tude Woku.

Tempat ini setiap hari dipadati pengunjung lokal, wisatawan dalam negeri, maupun wisatawan mancanegara. Tak salah bila kawasan ini merupakan salah satu destinasi wisata di Kota Manado.

Kami memilih makan Mie Cakalang di salah satu warung di pinggir pantai. Alasannya, selain ingin menikmati eksotis keindahan pantai Manado yang panjangnya sekitar 4 kilometer, kami juga ingin menikmati indahnya Pulau Manado Tua dan Pulau Bunaken, yang tersaji tidak jauh dari pandangan mata.

Bagi pengunjung yang ingin menikmati indahnya sunset, tempat ini merupakan salah satu spot terbaik. Mie Cakalang akan lebih nikmat bila disajikan dengan sambal roa, apalagi bila ditutup dengan segelas jeruk hangat.

Pada kesempatan lain, kami menikmati kopi pada salah satu kedai kopi di pusat perbelajaan di kawasan Boulevard.  Kami memilih kopi perpaduan (mix) antara jenis arabica dengan excelsio, meskipun maqam kami adalah penikmat kopi orginal taste.

Suasana kedai dibuat dengan konsep tradisional (meskipun berada di dalam mall), gelas kaca, dan canteng besi yang banyak terdapat di pedalaman, kami temui disini. Tempat ini cukap ramai dikunjungi orang, karena selain sensasi tradisionalnya, juga harganya terjangkau.

Pulau Bunaken yang terlihat dari kawasan Pantai Boulevard dapat dikunjungi menggunakan perahu, yang ditempuh sekitar dua jam perjalanan. Jarak tempuh dari daratan Kota Manado sekitar delapan kilometer.

Bunaken merupakan ekowisata dengan kawasan taman laut eksotis, yang ditandai dengan keindahan terumbuh karang dan ikan laut warna warni. Taman Laut Bunaken sudah dijadikan Taman Nasional, dan salah satu destinasi wisata terbaik di Kota Manado.

Pengunjung dapat menikmati keindahan laut Bunaken dengan menyewa peralatan snorkling, yang banyak disediakan di kios-kios di tepi pantai Bunaken. Jangan lupa mengabadikan momen bawah laut ketika Anda ber-snorkling ria, karena foto bawah laut sudah dipaketkan dengan penyewaan alat snorkling.

Jangan susah-susah mencari spot atau angel untuk berfoto di bawah laut, karena terumbu karang dan ikan-ikan laut kecil mudah ditemui di area tersebut. Bila memakai pemandu wisata, kita akan diarahkan ke spot terbaik. Setelah bersnorkling atau sekadar berenang di tepi pantai, jangan lupa menikmati pisang goreng goroho yang terdapat di warung-warung.

Di suatu hari, kami berkunjung ke madrasah di daerah Tuminting. Daerah ini merupakan kawasan dengan penduduk mayoritas muslim. Kami bertemu pimpinan madrasah. Di sela-sela perbincangan, salah seorang staf madrasah membawakan dan menyajikan kami makanan khas manado, yaitu bubur Manado, atau masyarakat setempat menyebutnya tinutuan.

Tinutuan terbuat dari bahan-bahan lokal yang mudah didapatkan yaitu beras, labu kuning, jagung muda, singkong, bayam hijau, kangkung, dan sayur gedi. Tinutuan sangat familiar di Sulawesi Utara, dan bahkan dikenal di luar daerah. Aromanya yang khas dan mudah didapatkan di warung-warung, menjadikan makanan ini “wajib” dicicipi oleh pencinta kuliner dari luar Manado. Pada beberapa tempat makan, tinutuan biasa disajikan dengan perkedel jagung, telur rebus, tahu rebus, tahu goreng, dan ikan tongkol.

Selain itu, kurang afdol juga rasanya bila ke Manado tetapi tidak mengunjungi Jalan Roda (Jarod), yang terletak di pasar sentral lama Manado, tak jauh dari Taman Kesatuan Bangsa. Selain bisa minum kopi di sini, di sepanjang jalan ini, juga menyediakan makanan khas Gorontalo.

Antropolog senior Universitas Sam Ratulangi, Alex Ulaen, menyatakan, dinamakan Jalan Roda, karena jalanan ini dulunya tempat mangkalnya dokar atau bendi sebagai satu-satunya alat transportasi masyarakat setempat. Di samping itu, Jalan Roda juga sering dijadikan ruang pertemuan informal antara politisi, pejabat pemerintah, dengan masyarakat.

Banyak keputusan yang akhirnya menjadi kebijakan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dilahirkan di tempat ini, termasuk mendiskusikan kondisi Sulawesi Utara Manado pasca kerusuhan di Ambon awal 2000. Bahkan, menurut Peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya Manado, Hasanuddin Anwar, gagasan awal Gorontalo ingin memisahkan diri dari Sulawesi Utara dan menjadi Provinsi Gorontalo, berawal dari obrolan di Jalan Roda. (*)

More Stories

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.