Thu. Sep 24th, 2020

BLAM

KEREN

“Islam Garassik” di Tondok Lepongan Bulan Toraja

4 min read

Masjid Al Fattah dan Gereja Toraja Jemaat Garotin, Lembang Garassik, Gandangbatu Sillanan, Tana Toraja. Pada bagian halaman gereja terdapat puluhan kuburan Muslim dan Kristen. Foto Dok. Penulis

3,071 total views, 4 views today

Oleh: Paisal (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Kabupaten Tana Toraja pada 2019 sukses melaksanakan Seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadits (STQH) ke-31 tingkat Provinsi Sulawesi Selatan. Kabupaten berpenduduk 279.541 jiwa dengan pemeluk Kristen 184.875 jiwa, Islam (34.275 jiwa), Katolik (50.158 jiwa), Hindu (Alukta) 10.214 jiwa, dan Buddha 19 jiwa. Salah satu kecamatan yang banyak dihuni pemeluk Islam adalah Gandangbatu Sillanan.

Lalu, bagaimana corak dan perkembangan Islam di wilayah ini?

Kedekatan secara geografis dengan wilayah Massenrempulu (Enrekang) yang telah hampir seluruhnya memeluk Islam, membuat kontak dengan warga Toraja bagian selatan menjadi mudah. Kedatangan beberapa saudagar Bugis beragama Islam yang berdagang di Pasar Mebali, ikut membuka ruang perkenalan dengan Islam.

Ne’ Sama, yang kini merupakan Imam Kampung di Garassik, menyebutkan, leluhurnya berasal dari Teteaji, sebuah daerah di Tellulimpoe Sidrap (Wawancara, Maret 2019). Teteaji dulu terkenal sebagai sebuah daerah di Sidrap yang disebut “panre guru”, atau tempat menimba ilmu utamanya sebagai bekal (manasik) bagi calon jamaah haji. Itulah sebabnya, daerah ini disebut Teteaji, yang berasal dari kata Tetteng (melayani) Aji (haji).

Ne’ Sama yang lahir tahun 1930-an, menceritakan, kedatangan kakeknya adalah pedagang pasar. Menurutnya, saat itu beberapa pedagang Bugis kemudian menikah dengan warga setempat yang menganut kepercayaan Aluk Todolo.

Selain pengaruh kedatangan orang Bugis, faktor lain yang memengaruhi penyebaran Islam di Toraja adalah jalinan kekerabatan. Warga Toraja banyak yang memiliki pertalian saudara dengan tetangganya di Duri, Alla, maupun daerah Luwu, yang telah memeluk Islam.

Dinamika perkembangan Islam di wilayah ini, juga tak dapat dilepaskan dari pengaruh Pemberontakan DI/TII, yang dimulai 1952-1965, yang disebut dengan istilah Tempo Garombolan. Pada masa ini, terjadi pemaksaan keyakinan yang menyebabkan munculnya antipati terhadap Islam.

Ambe Anning (71), seorang informan yang penulis temui di Toraja, Maret 2019, menuturkan, pada masa DI/TII terpaksa berganti agama Islam karena takut disembelih. Selama sepuluh tahun dia beragama Islam sejak tahun 1956, dan kembali menganut Kristen pasca meninggalnya pimpinan tertinggi DI/TII pada 1965.

Ambe Anning kemudian kembali dibaptis dengan nama Yulianus. Pada masa itu, banyak orang terpaksa memeluk Islam, yang kemudian hari kembali pada keyakinan lamanya.

Ambe Anning mengisahkan, pada awalnya gerombolan masuk ke Gandangbatu secara damai dan memperoleh simpati warga, karena mempersilakan menganut dua agama samawi; Islam atau Kristen, asalkan bukan penganut Aluk Todolo.

Namun, dalam tahun yang sama, menurut ST (Wawancara, Maret 2019), terjadi perubahan kebijakan ketika Gerombolan DI/TII memaksa dan mengultimatum warga untuk memeluk Islam saja. Warga yang awalnya simpati, bahkan banyak yang beragama Kristen, bersedia bergabung menjadi gerombolan kemudian diliputi ketakutan.

Pada saat itu, warga yang memelihara babi diberi waktu seminggu untuk menyembelih dan menghabiskan sisa ternak babinya. Malang tetap tak dapat ditolak. Meski warga mengikuti kemauan gerombolan, namun tetap tak dapat menjamin keamanan diri dan keluarganya. Mereka yang tinggal di kampung dipaksa membayar pajak, sementara pada pihak lain, tentara juga tak bisa melindungi, dan malah seringkali bertindak brutal.

Untuk mencari selamat, warga mengungsi ke hutan di Duri Enrekang, atau sekalian kabur ke kota Makale. Ne’ Ari (85 tahun) berharap, kondisi itu tak pernah kembali. Perang hanya membawa nestapa dan kerugian tak terbilang.

Di Selatan Toraja, dikenal istilah “Islam Garassik”, yang merupakan sebuah corak keberislaman yang ramah terhadap tradisi lokal. Islam yang dibawa dengan jalan dakwah sejuk dan damai oleh para pedagang Bugis. Mereka diberi label “Islam Garassik”, karena sebagian penganut Islam di Garassik masih melaksanakan tradisi Bugis yang disebut “Mattoana” (Wawancara MA, Maret 2019).

“Mattoana” dilaksanakan ketika selesai panen ada hajat telah terkabul atau memperoleh nikmat yang patut disyukuri. Kegiatannya berupa pembacaan doa syukuran dengan mengundang keluarga, tetangga, sanak kerabat untuk makan sokko (nasi dari ketan: Bugis), dan biasanya disantap dengan ayam secara bersama-sama. Pada saat pembacaan doa syukuran disertai pembakaran dupa oleh Imam atau Guru Sara’.

Selain tradisi syukuran “mattoana”, umat “Islam Garassik” juga melaksanakan tahlilan 3, 7, sampai 40 hari bagi orang yang meninggal. Mereka juga mengenal pembacaan kitab al-Barzanji dalam setiap hajatan berupa aqiqah, khitanan, maupun pernikahan atau /menempati rumah baru.

Tradisi ini telah berlangsung turun temurun, meski kini ada yang meninggalkannya karena menganggap tidak ada perintahnya dalam Alquran.

MA menyatakan, sebenarnya pelabelan “Islam Garassik” kurang tepat, karena seperti mengkotak-kotakkan. “Umat Islam di Garassik dan sekitarnya tidak akan sebanyak ini jika tidak melalui dakwah orang Bugis yang merangkul tradisi dan budaya, kalah kita dengan penginjil Toraja yang mampu beradaptasi dengan warga setempat,” kata MA.

Warga Toraja yang menganut Aluk Todolo memang banyak mengenal tradisi syukuran dalam beberapa kegiatan, dan dengan memusuhi tradisi leluhur mereka akan sangat susah memperkenalkan Islam. Jalan mengenalkan Islam dengan membawa tradisi yang juga umumnya dilaksanakan umat muslim di daerah lain dipandang tepat, mengingat tradisi syukuran tersebut telah dihiasi doa-doa Islami.

Menurut Ne Sama’, penganut Islam Garassik banyak yang menjadi korban keganasan gerombolan DI/TII pada masa lalu, karena dituduh sesat. Mereka dianggap melakukan ritual syukuran dengan menggunakan tradisi seperti itu bid’ah yang tidak ada tuntunannya.

Bigalke dalam bukunya Sejarah Sosial Tana Toraja (2015:158) menulis pergulatan Islam dengan kepercayaan lokal, sebagai berikut:   

“Islam pada pemukim-pemukim Muslim paling awal dan orang-orang Toraja “Muallaf” tergolong lunak dan toleran terhadap kebiasaan lokal. Memang, agama dari banyak pembawa awal ini menanamkan dogma Islam dengan kepercayaan pra Islam dalam kadar yang tinggi, yang secara spiritual memberi mereka banyak kesamaan dengan sepupu-sepupu Toraja mereka. Kedalaman ketaatan mereka kepada Islam amat tergantung kepada pekerjaan, pelatihan keagamaan formal dan tempat asal. Praktik Islam dari seorang pedagng kopi kecil dari Duri, yang hanya dipisahkan sebuah sungai dari dataran tinggi sa’dan, mungkin kurang sempurna dibandingkan dengan yang dipunyai oleh seorang pedagang kaya dari Parepare.”

Untuk menandai keberadaan umat Islam di Garassik, maka didirikan sebuah masjid pada awal abad 20. Masjid itu bernama Masjid Taqwa Garassik, dibangun secara swadaya berkat inisiasi para pendatang muslim dari Bugis. Saat itu, pemeluk agama Islam kebanyakan orang Bugis. Pada 1970-an, bagian beranda masjid ini sempat digunakan sebagai Madrasah Diniyah Ibtidaiyah. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.