Fri. Sep 25th, 2020

BLAM

KEREN

Peneliti Lektur Akan “Pelajari” Materi Khutbah Jumat

2 min read

Koordinator Peneltian "Konten Khutbah Jumat di Perkotaan", Muh. Subair, menyampaikan hasil temuan penjajakan lapangan, Selasa sore, 9 Juli 2019. Foto: Risal

445 total views, 2 views today

MAKASSAR, BLAM – Radikalisme yang mengatasnamakan agama tampaknya makin semakin parah, dan menjadi kekhawatiran masyarakat Indonesia. Akibat paham radikal yang diusung oleh beberapa kelompok agama, menyebabkan terjadi kekerasan atas nama agama, seperti perusakan rumah ibadat, hingga bom bunuh diri atas nama jihad.

Hal inilah yang akan “dipelajari” oleh Peneliti Lektur Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi (LKKMO). Namun, penelitian ini tidak akan memotret gerakan paham kelompok keagamaan, tetapi mengamati apa yang disampaikan oleh khatib saat mereka menyampaikan khutbah Jumat.

“Intinya, kami akan mengumpulkan dan menganalisis konten yang disampaikan khatib saat khutbah Jumat. Kami ingin mengetahui apakah khutbah mereka itu berisi ajakan menebar kedamaian, atau justru sebaliknya, intoleran,” kata Koordinator Penelitian, Muh. Subair, saat memaparkan hasil studi awalnya selama sepekan, di ruangan LKKMO, Selasa sore, 9 Juli 2019.

Merebaknya penceramah yang menyampaikan dakwah dengan konten mengkafir-kafirkan kelompok yang berbeda dengan mereka, serta menebar kebencian terhadap penganut agama non muslim, menjadi salah satu alasan mengapa penelitian ini dilakukan.

“Dari ceramah Jumat para ustad di masjid, tentu akan ketahuan apakah ustad bersangkutan ikut mendukung toleransi beragama dan kerukunan antarumat beragama, atau tidak. Nantinya, kami akan menjadikan hasil penelitian ini sebagai bahan pertimbangan pengambil kebijakan,” jelas Subair.

Pada tahap penjajakan yang mengusng tema besar Konten khutbah Jumat di Perkotaan ini, Tim LKKMO menurunkan lima personil di lokasi berbeda-beda. Mereka adalah Muh. Nur (Kendari, Sulawesi Tenggara), La Mansi (Ambon, Maluku), Syarifuddin (Jayapura, Papua), Muhammad Sadly (Balikpapan, Kalimantan Timur), dan Subair di (Parepare, Sulawesi Selatan).

Salah seorang peserta dari Kemenag Kota Makassar, Dr. H. Syaifullah Rusmin, menyatakan, konten ceramah yang disampaikan para dai tergantung dari ideologi yang dianut oleh kelompok mereka.

“Untuk itu, saya kira pengaruh dari lembaga dakwah sangat besar perannya  dalam  konten toleransi umat beragama, yang sebagian besar di dalamya dai dan mubaliq” kata Syaifullah Rusmin.

Narasumber penelitian, Dr. H. Nurman Said, mengaku tertarik dengan tema yang diangkat tim peneliti ini. Menurutnya, memang perlu ada semacam penelitian serius dan mendalam mengenai materi-materi yang disampaikan saat khutbah Jumat. Sebab, terkadang juga ada khatib Jumat menyampaikan ceramah dengan menebarkan kebencian terhadap kelompok yang tidak sepahaman dengan mereka.

“Yang perlu juga digali lebih dalam oleh para peneliti adalah apakah materi khutbah Jumat yang disampaikan itu memiliki pesan yang kuat terkait toleransi beragama atau tidak,” katanya.

Kepada para peneliti, Nurman Said, juga menyarankan untuk mengetahui latar belakang para penceramah, serta siapa-siapa saja yang hadir di dalam masjid tersebut. “Seperti, faktor kencenderungan paham keagamaan yang dianut dai atau mubaliq, latar belakang pendidikan keagamaannya mereka, siapa jamaahnya,  dan ketenaran dai bersangkutan,” kata Nurman Said. (sal)

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.