Sat. Apr 4th, 2020

BLAM

KEREN

Bakar Batu di Papua: Berbagi Berkah Merajut Harmoni

5 min read

Bakar Batu termasuk salah satu tradisi untuk merawat toleransi dan kerukunan antarumat beragama di Papua. Foto: Balliem Fest 2018

1,610 total views, 2 views today

Oleh: Abu Muslim (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Masalah kebudayaan perlu mendapat perhatian yang baik. Hal inilah yang melatarbelakangi mengapa dalam skop yang lebih spesifik daerah, selalu menjadi corong perkembangan kebudayaan dari waktu ke waktu. Terlebih penyandingan dan penggalian nilai keagamaan yang kian hari semakin marak mengisi setiap perbincangan, baik di dunia nyata maupun dunia maya.

Dalam kaitannya dengan agama, nilai dapat berguna dalam tiga hal, yakni sebagai dasar kewajiban atau perintah-perintah, sebagai kerangka orientasi budaya dan pemikiran, dan sebagai tradisi-tradisi moral yang spesifik. Jadi, adakalanya nilai-nilai keagamaan itu ada yang bersifat sebagai perintah dan larangan, adakalanya berupa pedoman-pedoman moral yang mengatur hubungan manusia dengan Yang Maha Kuasa, manusia dengan sesama serta manusia dengan alam.

Di Tanah Papua, salah satu aspek kebudayaan berbasis tradisi lokal yang sarat nilai (khususnya yang berkaitan dengan keagamaan) dapat dilihat dari Upacara Bakar Batu. Tradisi Bakar Batu adalah upacara yang merata di hampir seluruh Kawasan Papua. Setiap daerah meskipun berbeda suku menjadikan tradisi Bakar Batu sebagai salah satu upacara adat yang sampai sekarang masih sering dilakukan.

Bakar Batu secara pemaknaan sesungguhnya diartikan sebagai tradisi membakar dendam bagi siapa saja yang berselisih paham. Penyertaan Batu dalam setiap pelaksanaan tradisi ini adalah simbol penyingkiran sifat-sifat keras dalam diri manusia.

Batu dalam pelaksanaan tradisi ini berfungsi ganda, pertama dia sebagai simbol yang harus dilunakkan, sekaligus kedua batu berfungsi sebagai bahan bakar, atau jika dimaknai lebih dalam selalu berfungsi sebagai poros tradisi, yang kepadanyalah disandarkan kekuatan pemulihan dendam.

Pada mulanya, tradisi Bakar Batu adalah bagian dari tradisi memasak orang-orang Papua pedalaman, di mana ketika itu peralatan masak memasak tidaklah semodern sekarang. Batu yang dibakar (baca: dipanaskan dengan api) merupakan media “pematangan” makanan.

Batu yang diambil dari kali itu diletakkan bersamaan dengan makanan lainnya, serta dedaunan yang diperoleh dari tumbuhan yang boleh dimakan, berikut penyertaan umbi-umbian dan segala jenis olahan daging (ikan, babi, atau daging ternak lainnya) dibakar/dimasak bersamaan lapisan-lapisan yang dibatasi daun pisang pada setiap tahap-tahap penyertaan bahan makanan itu. Tentunya, penyesuaian bahan makanan, serta volumenya bergantung pada kolam yang dibuat, serta batu panas yang tersedia.

Di dalam pelaksanaan Bakar Batu, prinsip dasar yang telah berjalan turun temurun dari tradisi ini adalah konsep penyajian makanan kepada orang banyak sebagai bentuk penghargaan dari tuan rumah kepada para tetamu.

Konsep ini, sebagaimana disampaikan di awal, bahwa Bakar Batu adalah budaya kuliner yang kemudian telah mengalami transformasi, dari yang sebelumnya hanya semacam konsep penyajian makanan, kini menjelma menjadi sebuah perayaan dana tahu upacara yang dilakukan untuk memperingati, dan atau memecahkan persoalan. Dalam konteks masyarakat sosial, tentu proses memberi dan menerima juga ditemukan dalam proses Bakar Batu ini.

Diceritakan, jika ada sebuah komunitas, baik itu suku tertentu, dan atau sub suku tertentu, bahkan oleh kelompok keluarga dengan fam tertentu yang melaksanakan Bakar Batu, dalam proses penyajian makanan setelah melewati tahapan-tahapan Bakar Batu akan ada pemimpin upacara Bakar Batu yang berdiri dengan tegas, sebagai komando pembagi makanan yang berasal dari kalangan yang paling tinggi kedudukannya dalam kelompok suku itu, untuk selanjutnya membagi makanan hasil olahan itu kepada seluruh yang hadir.

Adalah sebuah kehormatan bagi sang penyelenggara Bakar Batu, apabila warga masyarakat yang datang dalam upacara Bakar Batu itu terlihat sangat antusias. Antusiasme warga itu bisa dibaca dalam dua arah, pertama karena mereka bisa menikmati hasil persembahan Bakar Batu dari sang tuan rumah, kedua karena mereka akhirnya bisa saling bercengkerama dengan akrab satu sama lain, bahkan oleh mereka yang pernah saling berselisih.

Sudah mafhum bagi sang tuan rumah untuk berpantang menyentuh makanan yang diolah itu sebelum semua yang hadir kebagian makanan. Bagi penyelenggara hajat, tamu adalah raja. Sehingga bagian-bagian dari setiap hasil olahan Bakar Batu itu sedemikian rupa diatur dengan saksama, agar jangan sampai ada warga yang tidak kebagian. Tuan rumah bahkan tidak makan sebelum memastikan semuanya telah dapat jatah.

Bagi masyarakat Papua, khususnya yang menyelenggarakan Bakar Batu, dapat dimaknai sebagai sebuah proses berbagi berkah. Meski Bakar Batu itu sudah sedemikian sering dilakukan, namun bahan-bahan yang digunakan adalah bahan makanan khusus, seperti daging babi, serta hasil kebun nan beragam, bisa diperkirakan besaran biaya pelaksanaannya juga tidak sedikit. Apalagi dalam sistem masyarakat tradisional Papua, informasi agenda Bakar Batu oleh kelompok suku/masyarakat tertentu, dapat dengan mudah tersebar.

Pelaksanaan Bakar Batu selalu melibatkan masyarakat dengan jumlah banyak. Bagi siapa saja yang berkeinginan melaksanakan Bakar Batu harus memiliki persiapan matang, baik dari segi pemilihan waktu, sampai pada persiapan materi yang harus dipastikan cukup untuk mengajak makan banyak warga.

Pada tradisi masyarakat Papua, setiap penjamuan Bakar Batu, tidak dibutuhkan undangan resmi, sebab prinsip-prinsip kekeluargaan dan kedekatan satu sama lain. Meski berbeda fam atau suku, secara otomatis akan terpanggil untuk datang ke hajatan tersebut, meski hanya didengar dari bisik-bisik antarwarga. Kehadiran mereka atau tidak dalam sebuah hajatan menentukan respons tuan rumah.

Selain itu, ada dimensi berkah yang harus disampaikan merata dalam sebuah komunitas masyarakat Papua. Bakar Batu sangat erat kaitannya dengan penyajian makanan, maka adalah sebuah keniscayaan bagi setiap yang telah mendengar kabar pelaksanaan Bakar Batu, sekaligus berpikiran hal tersebut adalah berkah yang tidak bisa ditolak.

Kedatangan ke acara itu adalah sekaligus membuat jalan berkah yang hendak dibagikan oleh sang penyelenggara menjadi terbuka lebar, begitu pula sebaliknya.

 “Di sini, di tanah Papua, tidak perlu seorang mendatangi rumah-rumah warga untuk mengundangnya datang menyemarakkan Bakar Batu , cukup dengan memberitahu beberapa orang saja, maka dengan sendirinya akan tersebar dari mulut ke mulut sampai pada warga yang jauh sekalipun, namun ketika mendengar ada Bakar Batu , mereka pasti akan datang. Ada berkah yang harus di bagi, dan harus ada orang-orang yang datang yang akan memperlancar keluarnya pintu-pintu berkah yang lainnya. Oleh karenanya, mengajak dan menghadiri hajatan Bakar Batu adalah hal yang sudah sejak dahulu kita orang Papua menjunjung tingginya (Wawancara Albert Yoku, Sentani, 26 Juli 2018).

 Setiap keberkahan atas suguhan makanan itu sekaligus dapat memupuk silaturahmi antar sesama masyarakat di tanah Papua. Suguhan makanan olahan dalam Bakar Batu, mengisyaratkan sebuah makna dan nilai toleransi antarumat beragama di tanah Papua.

Meskipun Bakar Batu itu bahan utamanya Babi yang telah dilakukan turun temurun, namun juga masih memikirkan saudara-saudara lainnya yang tidak bisa makan Babi untuk dicarikan solusi sebagaimana dibahas sebelumnya. Babi bisa diganti dengan daging ayam, sapi, bahkan Ikan.

Hal ini memperlihatkan betapa masyarakat di tanah Papua masih menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi dan saling menghargai satu sama lain, apa pun agama dan sukunya. Di dalam Bakar Batu itulah, ruang dialog antar pemeluk agama yang berbeda saling menghargai satu sama lain, pemisahan-pemisahan itu tentu terjadi secara alamiah.

Siapa pun yang akhirnya berkesempatan dan berkecukupan melaksanakan hajatan Bakar Batu, di posisi itulah kemudian kesadaran sosial sebagai masyarakat yang tidak homogen bangkit dengan menyiapkan bahan makanan berbahan Babi dan juga kolam Bakar Batu yang berbahan ayam/ikan.

Keseluruhan aspek itu menunjukkan bahwa tradisi Bakar Batu dalam konteks keagamaan dapat dikaitkan dalam keyakinan, penyembahan kepada sang pencipta, dan upacara keagamaan. Kedalaman dan keluhuran hikmah dari segenap proses-demi proses pelaksanaan Bakar Batu telah menunjukkan ejawantah nilai-nilai keagamaan (etika, moral, dan akhlak) yang potensial mewujudkan cita-cita bersama menuju Papua tanah Damai.

Hal ini sejalan dengan proses membangun pandangan positif di Papua yang menjadi sangat penting dalam hal mengembangkan kekayaan budaya, suku, dan agama. Keragaman budaya dan Bahasa di Papua sebenarnya adalah kekuatan Papua (F. Simbiak, dalam Wempi Wetipo dan Marthen Medlama, 2015: 37-38). Generasi Papua harus menggunakan kata “kita” dan bukan kata “mereka”. Kita berarti seluruh anak Papua dengan semua potensi yang dimiliki agar turut serta Bersama membangun Papua yang damai melalui kearifan budayanya. (*)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.