Sun. Apr 5th, 2020

BLAM

KEREN

Saprillah: Saya Kangen “Rasa” Itu

2 min read

Kepala Balai Litbang Agama Makassar, H. Saprillah, M.Si (ujung kiri), seusai membuka kegiatan Workshop Balai Litbang Agama Makassar, di Hotel Aryaduta, Makassar, belum lama ini. Foto: Istimewa.

527 total views, 2 views today

ADA yang terasa hilang dalam diri Haji Saprillah, M.Si, sejak dilantik menjadi Kepala Balai Litbang Agama Makassar, Februari 2019. Dengan memegang pucuk pimpinan di instansi di bawah naungan Kementerian Agama, praktis ia tak lagi bisa berlama-lama melakukan riset lapangan. Padahal, penelitian di setiap lokasi acap kali mendatangkan pengalaman berbeda.

“Dengan tidak rutin meneliti seperti dulu lagi, saya khawatir akan kehilangan “rasa” di lapangan. Bagi seorang peneliti, “rasa” di lapangan itu sesuatu yang sungguh luar biasa. Saya kangen “rasa” itu,” kata pria kelahiran Februari 1977, ini.

Melakukan riset, kata dia, tidak hanya melulu kepada persoalan bagaimana peneliti memeroleh data yang dibutuhkan selama di lapangan. Lebih dari itu. Banyak hal-hal atau pengalaman berharga yang bisa dipetik setiap kali melakukan riset.

“Seperti, bagaimana kita bisa mendekati dan kemudian mengobrol dengan informan yang baru pertama kali kita bertemu di lokasi penelitian,” kata Pepi, sapaan akrab Saprillah.

“Termasuk, bagaimana menyiasati diri kita ketika mengalami kemandekan menemukan gagasan-gagasan baru. Saya kira, masing-masing peneliti punya cara-cara tersendiri di kala pikirannya mulai mandek,” ujarnya.

Nah, salah satu pengalaman unik yang dilakukan Pepi ketika mengalami “kebuntuan” adalah berkeliling naik becak bermotor (bentor).

“Waktu riset di Gorontalo, saya naik bentor dan keliling-keliling di sepanjang kota. Setelah melihat keramaian dan beragam pemandangan di jalan yang dilewati, tiba-tiba ide untuk menulis angel baru muncul,” jelas ayah tiga anak ini.

Menurut pria berdarah Palopo ini, tugas seorang peneliti itu cukup berat. Peneliti adalah kelompok intelektual yang mesti selalu memperlihatkan kekhasan intelektualitasnya secara individual maupun kolektif di manapun mereka berada.

“Kita (peneliti) adalah pekerja intelektual. Yang diuji adalah karya akademiki kita, seperti hasil temuan kita di lapangan. Lalu, apa indikatornya? Setidaknya, hasil karya kita dapat dikonsumsi oleh publik dan pengambil kebijakan,” kata Pembina Gusdurian Sulawesi Selatan, ini.

Pepi juga selalu meyakini, para informan yang ditemui di lapangan adalah guru. Dari hasil bincang-bincang dengan mereka, aktivis PMII ini selalu memperoleh ilmu berharga, yang tidak didapatkan di dalam buku-buku teks.

“Bagi saya, para informan adalah guru terbaik. Karena itu, relasi antara peneliti dengan informannya jangan berhenti pada saat penelitian selesai. Sebisa mungkin, relasi yang telah kita bangun itu tetap dipelihara dengan baik,” kata suami Ayu Wahyunarsih.

Meski tak lagi berlama-lama melakukan riset lapangan seperti dulu, ia tetap mengisi kekosongan waktunya sebagai pejabat negara dengan menulis. Sejauh ini, Pepi memang dikenal sebagai novelis.

Dari empat novel yang dihasilkan, dua di antaranya terkenal, yaitu Calabai (Perempuan dalam Tubuh Lelaki) dan Kyai Saleh. Novel Calabai yang terinspirasi dari kehidupan Bissu di Sulawesi Selatan, masuk nominasi penghargaan sastra karya terbaik Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) ke-17 tahun 2017.

Berkat Calabai pula, penggemar berat klub Inggris, Chelsea, ini kerap diundang menjadi narasumber untuk mendedah novelnya di berbagai komunitas, aktivis, dan akademisi, di Kawasan Timur Indonesia. (ir)

 

More Stories

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.