Thu. Sep 24th, 2020

BLAM

KEREN

“Orang Bugis Mendominasi Pulau Sebatik”

4 min read

Peneliti bersama anggota TNI AD di perbatasan Indonesia - Malaysia Dok. Pribadi

808 total views, 2 views today

  • Catatan dari Batas Negeri (bagian 2, Selesai)

Oleh Sabara Nuruddin

PAGI itu, sekitar pukul 10.00 Wita, Rabu, 8 November 1967, di dekat sebuah muara sungai kecil di perairan sebelah utara Pulau Sebatik, tepat di perbatasan perairan Indonesia dan Malaysia.

Serombongan kecil armada yang terdiri atas tiga perahu layar kecil bermuatan total lebih kurang 40 orang dipimpin Haji Beddurahim, pria Bugis asal Palattae, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, melabuhkan perahu mereka dengan mengikatnya di sebuah tiang kayu yang dipancangkan.

Seluruh rombongan pria, wanita, tua, muda hingga balita adalah keluarga besar dan kerabat beliau. “Waktu itu saya masih berumur lima tahun, jadi tidak banyak hal yang saya bisa ingat,” tutur seorang pria paruh baya, yang merupakan cucu Haji Beddurahim, yang ikut dalam rombongan tersebut.

Setelah terombang-ambing selama 10 hari di lautan, tepat di hari rombongan tiba, salah seorang anak perempuannya melahirkan dalam suasana yang sangat darurat di atas perahu. Beruntung, kedua ibu dan anak selamat.

Haji Beddurahim seorang perantau ulung dari Tanah Bugis. Ia berpindah-pindah rantau bersama keluarganya. Ia meninggalkan Bone ke Kota Samarinda, Kalimantan Timur, hingga ke Filipina, dan terakhir berlabuh di Sebatik. Di wilayah Utara Sebatik Indonesia, masih dalam suasana persitegangan akibat konfrontasi dengan Malaysia, Haji Beddurahim dan rombongan membuka lahan di daerah yang kemudian diberi nama Sungai Pancang.

Mengingat luasnya lahan dan kurangnya orang, Haji Beddurahim memanggil keluarga dan kerabatnya hingga ke Bone untuk datang membantu dia mengelola lahan yang masih “perawan”. Semakin lama orang-orang Bugis yang (di)datang(kan) semakin banyak hingga membentuk perkampungan di bagian Utara dan Timur Pulau Sebatik Indonesia.

Itulah salah satu kisah kegigihan perantau Bugis mengarungi lautan lepas hingga tiba di Sebatik, sebuah pulau di Utara Borneo yang terbagi dalam wilayah 2 negara. Haji Beddurahim dan rombongan tentu bukanlah orang pertama yang datang ke Sebatik.

Sebelumnya telah ada beberapa pemukim dalam jumlah kecil di pulau ini utamanya Suku Tidung, yang merupakan pemukim awal di pulau ini. Kedatangan gelombang migran asal Bugis mengisi bagian per bagian pulau ini terhitung mulai dekade 1960-an.

Selain datang dengan tujuan membuka lahan, di awal dekade 1970-an, ketika ketegangan konfrontasi sudah mereda. Posisi strategis Sebatik menjadikannya daerah perlintasan para perantau (baca Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang ingin mengadu nasib di Malaysia, khususnya Kota Tawau, Negara Bagian Sabah, Malaysia Timur.

Sebagian besar TKI tersebut berasal dari Sulawesi dan beretnik Bugis. Sebagian di antaranya setelah bekerja di Negeri Jiran pun kembali dan bermukim di Sebatik. Mereka menjadi peladang dan pedagang yang melintas batas negara bak menyeberang batas desa.

Menjejakkan kaki di Sebatik demi memenuhi tugas negara di perbatasan nun jauh dari Sulawesi Selatan, saya harus menempuh penerbangan dari Makasaar ke Tarakan, dilanjutkan ke Nunukan, dan untuk ke Sebatik masih harus menyeberang dengan speedboat kecil selama 15 menit.

Tiba di Sebatik terasa berada di kampung sendiri. Sepanjang jalan, saya melihat berderet rumah-rumah panggung khas Bugis jamak dijumpai. Tiba di Sebatik, bahasa Bugis atau setidaknya bahasa Indonesia dialek Bugis selalu terdengar dari orang-orang di pulau itu.

Akhirnya tanpa canggung saya berbicata dengan dialek Bugis dan sesekali menggunakan bahasa Bugis, dan harus saya akui, dialek dan bahasa Bugis mereka lebih kental dan lebih fasih dari saya.

Orang-orang yang saya jumpai selalu mengatakan: “Di sini Bugis mayoritas pak. Kira-kira 90 persen, bahkan lebih.” Hah… 90%? Angka yang menurutku terlalu berlebihan mengingat daerah ini cukup jauh dari Sulawesi Selatan.

Akhirnya validitas angka tersebut terkonfirmasi ketika saya mendapatkan data statistik kependudukan dari Koramil Sebatik, yaitu 41.516 dari 43.886 atau 94,6 persen penduduk Sebatik Indonesia berasal dari suku-suku Sulawesi yang dominannya adalah Bugis. Bandingkan dengan penduduk yang berasal dari Jawa, hanya 250 jiwa dan suku Tidung yang merupakan penduduk asli pulau tersebut hanya 877 jiwa.

Dominasi Bugis di Pulau ini hingga menyeberang ke wilayah jiran. Ketika melintasi tapal batas dan masuk ke pemukiman di wilayah Malaysia, lagi-lagi bahasa Bugis riuh terdengar dari orang-orang di sekitar, sekumpulan bapak-bapak riuh berbahasa Bugis sembari membanting kartu domino.

Meski ke-Bugis-an mereka cukup kental, sebagian dari mereka bahkan tidak pernah sama sekali menginjakkan kaki di kampung halamannya. Ketika mengunjungi salah satu titik batas di Desa Sungai Limau, saya diantar oleh seorang remaja yang baru saja tamat SMA, dengan dialek Bugis Bone yang cukup kental ia berbicara. Saya tanya sudah berapa kali ke Sulawesi? Jawabannya: “Belum pernah, Pak!”

Setelah setengah abad berlalu sejak kedatangan gelombang migran Bugis ke Pulau Sebatik. Kini migran Bugis menjadi penduduk dominan di Sebatik. Dominasi etnik Bugis membuat bahasa Bugis menjadi bahasa kedua yang digunakan selain bahasa Indonesia.

“Di sini orang Jawa dan orang Tidung mengerti Bahasa Bugis. Ceramah-ceramah agama di masjid menggunakan bahasa yang bercampur antara Indonesia dan Bugis, dan jamaah lebih senang jika penceramah menggunakan bahasa Bugis,” ungkap Muhammad Martoni, seorang guru di MI As’adiyah Sebatik, lelaki kelahiran Sebatik asal Bugis Kabupaten Soppeng.

Kini telah lahir generasi ketiga, bahkan keempat dari migran Bugis yang sebagian di antaranya tak pernah menjejakkan kaki di Sulawesi. Namun, ke-Bugis-an mereka dari dialek, penggunaan bahasa, hingga adat budaya Bugis yang masih teguh dipertahankan seperti di kampung moyang mereka. Jadilah Sebatik, sebuah “koloni” Bugis yang terletak nun jauh dari Tanah Bugis. (*/selesai)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.