Wed. Apr 8th, 2020

BLAM

KEREN

Sebatik dan Muara Tami Jadi Fokus Peneliti BLAK  

2 min read

Peneliti Bidang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Balai Litang Agama Makassar membahas temuan penjajakan, di ruangannya, Senin sore, 8 Juli 2019. Foto: Zulfikar

292 total views, 2 views today

MAKASSAR, BLAM – Nasionalisme dan keagamaan masyarakat yang bermukim di wilayah perbatasan negara, menjadi topik penelitian Bidang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan (BALK) Balai Litbang Agama Makassar.

Hal tersebut dikemukakan pada seminar rapat dalam kantor (RDK), di ruangan peneliti BLAK, Senin sore, 8 Juli 2019. Selain peneliti BLAK, seminar RDK ini dihadiri juga peserta dari luar, seperti dosen, aktivis, dan pendeta.

Saat menyajikan laporan studi awal selama sepekan, tim yang terlibat dalam penelitian ini, sepakat menyatakan, dua lokasi penelitian, yaitu Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, dan Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Papua, layak dilanjutkan menjadi penelitian.

Sabara dan Muhammad Ali Saputra melakukan penjajakan di Pulau Sebatik, sedangkan Muh. Irfan Syuhudi dan Paisal menjajaki Distrik Muara Tami. Pulau Sebatik berbatasan dengan negara Malaysia, sedangkan Muara Tami berbatasan Papua Nugini (PNG).

Koordinator penelitian, Sabara, menyatakan, masyarakat yang bermukim di Sebatik sebagian besar berasal dari etnis Bugis. Kehadiran orang Bugis di daerah perbatasan Malaysia ini, tak terlepas dari tradisi diaspora Bugis.

“Penduduk di Desa Aji Kuning, Sebatik, didominasi orang-orang Bugis yang merupakan pendatang sebanyak 94,6 persen, dan sisanya orang Jawa. Orang Tidung merupakan penduduk asli Sebatik,” jelas Sabara.

Muh. Irfan Syuhudi dan Paisal, memaparkan, kondisi sosial kemasyarakatan di Muara Tami cukup menarik. Hal ini dapat dilihat dari relasi sosial antara orang Mosso, Papua dengan orang PNG, di mana mereka punya hubungan saudara dan kerabat dekat.

“Kalau hari Senin sampai Jumat, misalnya, orang Mosso beraktivitas di Indonesia, maka pada hari Jumat sampai Minggu, mereka sering menginap di rumah keluarganya di PNG. Yang menarik, ada beberapa orang Indonesia di perbatasan punya KTP PNG, dan begitupula sebaliknya, ada juga orang PNG memiliki KTP Indonesia,” kata Irfan.

Paisal mengemukakan, kehadiran Panglima Laskar Jihad, Jafar Umar Thalib, di Muara Tami, menghebohkan masyarakat Jayapura. Terlebih, pasca perkelahian antara pengikut Jafar Umar Thalib dengan orang Kristen di Muara Tami.

“Karena itu, bukan hanya masyarakat Muara Tami saja yang menolak kehadiran Jafar Umar Thalib, melainkan juga pemerintah daerah dan organisasi masyarakat dan organisasi keagamaan di Jayapura menolak kehadirannya,” kata Paisal.

Terkait mendominasinya orang Bugis di Sebatik, salah seorang peserta, Pendeta Dr. Diks Pasande, mengatakan, ciri khas orang Bugis sejak dulu adalah perantau.

“Yang menarik dari perilaku orang Bugis di perantauan adalah perilaku ekonomi (berdagang) dan perilaku politiknya. Orang Bugis di daerah perantauan selalu menunjukkan kesuksesan berdagang dan politik,” kata Diks Pasande.

Saprillah, selaku pembimbing penelitian, menyatakan, apa yang ditemukan oleh peneliti di dua lokasi pada tahap penjajakan, diakui cukup bagus. Setidaknya, informasi yang ditemukan terkait dinamika kebangsaan dan keagamaan di masyarakat perbatasan, sudah cukup kuat.

“Temuan peneliti bahwa kebangsaan kita baik-baik saja di sana, ini yang menarik, dan perlu lagi ditelusuri secara mendalam. Karena itu, peneliti sebaiknya juga melihat bagaimana peran organisasi keagamaan tentang merawat kebangsaaan dan paham keagamaan,” kata Saprillah.

“Untuk di Papua, misalnya, menarik juga dimintai pandangan masyarakat di perbatasan atau orang di luar Muara Tami tentang kehadiran OPM (Organisasi Papua Merdeka)?” kata Saprillah, yang juga Kepala Balai Litbang Agama Makassar ini. (zul)

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.