Sat. Apr 4th, 2020

BLAM

KEREN

Guru Agama Honorer Harus Disesuaikan Kebutuhan Madrasah

2 min read

Peneliti Bidang Penda Balai Litbang Agama Makassar membahas hasil studi awal, Senin, 8 Juli 2019 sore. Foto: Fauzan

168 total views, 4 views today

MAKASSAR, BLAM – Peneliti Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan (Penda) Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar (BLAM) melaksanakan Rapat Dalam Kantor (RDK) membahas hasil pengumpulan data awal penelitian Pengelolaan dan Pemberdayaan Guru Honorer di Madrasah, di ruangan kerja peneliti Penda, Senin, 8 Juli 2019 sore.

Penelitian ini melibatkan 5 (lima)  orang  peneliti,  yaitu Badruzzaman (kordinator penelitian) yang meneliti Kota Samarinda, Asnandar Abubakar (Manado), Abdul Rahman Arsyad (Kota Gorontalo), Israpil (Kendari), dan Rosdiana (Kabupaten Bone).

Badruzzaman sebagai koordinator penelitian membuka kegiatan, sekaligus memberikan gambaran umum terkait substansi hasil temuan pengumpulan data awal penelitian. Ada tiga komponen yang disampaikan peneliti terkait hasil temuan lapangan, yaitu ketersediaan data penelitian, ketersediaan informan/narasumber penelitian, dan keterjangkauan sasaran penelitian.

Salah seorang peserta, Kepala Seksi Madrasah Kanwil kementerian Agama Sulawesi Selatan, memberikan informasi tentang pola rekruitmen guru non PNS pada MAN IC dan MAK, karena memiliki proses rekruitmen yang langsung merujuk pada kebijakan Kementerian Agama, jadi ada kekhususan seleksi guru.

“Begitu juga pendataan guru agama, harus diperhatikan penempatan dan pemanfaatan guru-guru agama yang ada, karena masih ada guru yang sudah pensiun tetapi masih difungsitugaskan pada madrasah,” katanya.  Data guru ini dapat diakses melalui aplikasi SIMPATIKA yang dikelola seksi Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK).

Hal penting yang juga harus menjadi perhatian adalah kualifikasi pendidikan dan kompetensi guru agama, termasuk karakteristik pengalaman-pengalaman mengajar. Pada penugasan guru-guru agama terdapat proses afirmasi, yaitu guru-guru agama yang diangkat oleh pemerintah daerah.

Wakil Kepala MAN 2 Makassar, Erniwati, menyatakan, pengangkatan guru non PNS disesuaikan dengan kebutuhan mata pelajaran, bukan dari analisis kekurangan jam pelajaran secara umum.

“Mata pelajaran Al-quran dan Hadits masih kekurangan guru. Penggajian guru non PNS yang belum tersertifikasi disediakan lewat dana komite madrasah,” kata Erniwati.

Prof. H. Sofyan Salam, P.hd. sebagai narasumber, menyatakan, ada beberapa hal penting terkait pengelolaan tenaga honorer. Pertama, pola rekrutmennya. Dalam tahapan ini, harus ada uraian proses perekrutan sesuai  kebutuhan masing-masing madrasah. Rekrutment ini harus sesuai standar yang ada. Kedua, adalah persoalan kompetensi. Menurutnya, masalah kompetensi juga perlu dilacak pola rekrutmen dengan memerhatikan kompetensi guru honorer.

Secara umum, narasumber memberikan arahan terkait hasil pengumpulan data awal dan kelanjutan penelitian lapangan dengan menekankan pada keunikan atau karakteristik masing-masing lokasi penelitian.

“Keunikan yang dimaksud adalah pola pengangkatan dan pengelolaan guru non PNS pada masing-masing madrasah, dan keterlibatan pimpinan baik di madrasah maupun di Kementerian Agama,” jelas Sofyan Salam.

Peserta pada kegiatan ini berjumlah 25 orang. Mereka adalah 20 pegawai dan peneliti, dan lima peserta atau undangan luar, yang berasal dari Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Selatan, perwakilan Madrasah Aliyah Negeri di Kota Makassar, dan perwakilan guru non PNS. (zan)

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.