Sat. Apr 4th, 2020

BLAM

KEREN

 “Bayarnya Pakai Rupiah atau Ringgit?”

3 min read

Salah satu rumah penduduk di tapal batas Foto: Sabara

180 total views, 4 views today

Catatan dari Batas Negeri  (bagian 1)

Oleh: Sabara Nuruddin

“Bayarnya pakai rupiah atau ringgit?” kata seorang ibu, ketika saya meletakkan barang belanjaan di meja kasir warungnya. Saya menjawab, “Rupiah!” “Kalau begitu, harganya 75 ribu rupiah, Pak,” ujar petugas kasir. Karena penasaran, saya kemudian melanjutkan pertanyaan. “Kalau misalnya saya bayar pakai ringgit, kira-kira berapa?” Ibu itu menjawab, “21,5”.

Begitulah sekelumit pengalaman yang saya alami saat berbelanja di sebuah warung di Sebatik, Pulau Sebatik. Sebatik, sebuah pulau di Utara Borneo seluas 433 km2, secara administratif pulau kecil ini dimiliki oleh dua negara, yaitu 246 km2 di bagian Selatan menjadi milik Indonesia dan 187 km2 di belahan Utara menjadi wilayah negara bagian Sabah Malaysia.

Sebatik Indonesia terdiri atas lima kecamatan yang masuk dalam wilayah Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Tapal batas yang terdiri 22 patok sebagai penanda batas membentang dari Timur hingga Barat pulau tersebut. Tiga dari lima kecamatan berbatasan langsung dengan Negeri Jiran, Malaysia.

Ada tiga titik yang sempat saya kunjungi menjadi “jalur tikus” arus masuk-keluar barang dan orang antar dua negara. Begitu dekatnya jarak antarkedua negara di pulau ini, membuat penduduk di dua negara saling memiliki ikatan kekerabatan satu sama lain. Terlebih lagi, etnik yang dominan di kedua wilayah pulau tersebut adalah Bugis.

Akibat seringnya melakukan transaksi di wilayah Malaysia, penggunaan mata uang ringgit pun digunakan selain rupiah di wilayah ini. Sejak transit di Nunukan, beberapa teman sudah mengingatkan, bahwa di Sebatik berlaku dua mata uang, maka jangan heran ketika berbelanja di warung apalagi di daerah sekitar tapal batas akan ditanya oleh penjualnya, mau bayar pakai rupiah atau ringgit?

Beberapa teman juga mengingatkan untuk memeriksa dengan cermat ketika menerima uang kembalian. Sebab, biasanya, ada terselip pecahan ringgit ketika penjualnya tak memiliki cukup uang kecil dalam pecahan rupiah.

Beberapa kawan yang pengurus masjid bercerita, isi celengan masjid setiap Jumat terdiri atas pecahan rupiah dan ringgit. Bahkan, biasanya nilai sumbangan dengan uang ringgit setelah dikonversi lebih tinggi nilainya dibanding sumbangan dengan rupiah.

Mengapa di wilayah Indonesia berlaku pula mata uang ringgit? Apa masyarakat di situ tidak cinta rupiah? Jangan terburu-buru menjudge. Penggunaan mata uang ringgit, karena masyarakat setempat sering berbelanja kebutuhan pokok di Tawau, Malaysia, sehingga mereka juga harus menyediakan uang ringgit di dompet mereka.

“Garuda di dadaku, ringgit di dompetku” atau “Garuda di dadaku, Malaysia diperutku”, itulah kira-kira adagium yang berkembang. Terselipnya uang ringgit di dompet tak serta-merta membuat rasa cinta Indonesia hilang di sanubari mereka.

Masyarakat Indonesia di Sebatik, boleh dikatakan sangat bergantung dengan pasokan beberapa kebutuhan pokok dari Negeri Jiran. Hal ini disebabkan, jika kebutuhan tersebut dipasok dari Tawau, maka harganya akan lebih murah ketimbang harus diambil dari Jawa atau Sulawesi yang jaraknya lebih jauh dibandingkan Tawau.

Sekitar 15 menit saya mengamati di salah satu “jalur tikus” yang menghubungkan dua negara. Ada 4 motor yang masuk dari wilayah Malaysia membawa beberapa tabung gas elpiji 15 kg untuk dijual pada masyarakat di Sebatik. Untuk barang yang satu itu, masyarakat Sebatik lebih memilih menggunakan gas elpiji dari Malaysia ketimbang dari Indonesia. Alasannya, harga lebih murah dan lebih lama digunakan.

Biaya hidup di Sebatik relatif murah. Saya merasakan itu setelah sepekan lamanya berada di sana. Setidaknya, dompet tak akan “koyak” kala membayar makanan dan minuman yang dipesan di warung. Saya sempat terkejut ketika pertama kali melihat harga makanan yang tertera di menu. Bayangan saya, bahwa harga makanan dan minuman mahal, ternyata tidak terbukti. Harga makanan dan minuman seperti di Makassar.

Saya bertanya pada seorang kawan, mengapa harga makanan dan minuman murah? Dengan enteng teman menjawab, “Karena bahan kebutuhan di sini dipasok dari Malaysia.” Meski kebutuhan perut bergantung pada pasokan Negeri Jiran, tapi jangan meragukan kecintaan mereka terhadap Indonesia. Sejumlah orang yang saya tanya tentang dukungan diberikan kepada tim siapa ketika Tim Nasional Indonesia melawan Tim Nasional Malaysia, mereka semua kompak mejawab Tim Indonesia! (bersambung)

 

More Stories

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.