Fri. Sep 25th, 2020

BLAM

KEREN

“Alwi Amin, Muhammadiyah yang NU”

3 min read

Kepala Balai Penelitian Lektur Keagamaan, Alwy Amin (ujung kanan) sedang mengikuti kegiatan rapat. Foto: Istimewa

460 total views, 2 views today

Abd. Shadiq Kawu dalam Catatan (Bagian 5)

Pengalaman ini ditulis langsung Abd. Shadiq Kawu (almarhum) ketika memasuki purnabakti pada 2018. Sebagai peneliti, Shadiq Kawu telah mencapai puncak kariernya sebagai Peneliti Ahli Utama Balai Litbang Agama Makassar dengan pangkat/golongan IV/e. 

***

SESUAI daftar urut pejabat yang pernah jadi Kepala Balai Litbang (Kabalai) Makassar, Alwy Amin (AA), adalah kepala balai ketiga (setelah Ahsan Husain dan T. Syamsyddin). Namun, kalau Yusri Abady diselipkan masuk dalam daftar urut (mengingat ia jadi Plt. dalam durasi waktu sampai dua tahun), Alwy Amin adalah kabalai keempat.

Konsekuensinya adalah, jumlah figur yang pernah “memimpin” di Balitbang Makassar, bukannya sembilan tapi sepuluh. Tapi, Ok-lah, kita tidak perlu fokus ke situ.

Saya hanya ingin menyampaikan, proses perjalanan AA dari Diklat ke litbang penuh liku, meliuk-liuk bagai terowongan rahasia yang tidak seorangpun tahu.Hanya Tuhan yang tahu. Simaklah, ketika AA merasa tenang sebagai Kasubbag TU di Balai Diklat. Ia orang kedua yang merintis lahirnya lembaga ini bersama Abdurrahman K. (Kepala Balai Diklat pertama), yang belakangan menjadi Kakanwil Depag Sulsel.

Sekali waktu, pernah mengatakan kepada saya bahwa waktu itu tidak pernah muncul dalam benaknya. Apalagi, diklat waktu itu adalah zona nyaman yang jadi primadona PNS Departemen Agama. Sebaliknya, litbang adalah sebuah tempat paling tidak populer. Sulit berkembang dan tidak pernah dilirik sebagai tempat mengabdi. Sepi dan dianggap tempat pembuangan, tidak punya masa depan.

Para peserta penataran hilir mudik ke Diklat silih berganti. Pegawainya, setiap hari tampil rapi. Berseragam kemeja putih dengan dasi melambai. Keren amat pokoknya. Semakin banyak kegiatan berlangsung, semakin bertambah pula penghasilan di luar gaji.

Dapat dipahami mengapa orang di Balai Diklat tak berminat lagi ke tempat lain, apalagi ke Balitbang. Tapi sekali lagi, Allah selalu menampilkan kuasanya, yang tadinya mustahil pun menjadi mungkin. Terjadi antiklimaks yang berbeda dengan prediksi awal.

Kasus AA dari Balai Diklat ke Balai Litbang Agama merupakan salah satu contoh. Tiba-tiba dari Jakarta mengalir pesan pasti ke TS, kepala litbang Makassar. AA segera dimutasi ke balitbang menggantikan YA sebagai Kasubbag TU. Namun, pesan itu secara berlarut larut diikuti berita-berita aneh yang membuat ketidakpastian. Masalahnya, berita tentang kapan pelantikan berlangsung semakin tidak jelas.

Keanehan baru dari Jakarta muncul lagi selang beberapa pekan setelah SK kasubbag TU baru diterbitkan. Tiba-tiba beredar kabar, SK dibatalkan dan jabatan kasubbag litbang kembali ke petahana. AA pun kembali ekses di Balai Diklat Makassar.

Untuk catatan, waktu itu Diklat dan Litbang masih “sepupu” belum diakui sebagai “saudara kandung”. Sudah tuntas?, Belum,  masih ada keanehan baru dan lebih dramatis. Setelah dua tahun berlalu. TS sudah meninggal dunia.

Tiba-tiba informasi baru muncul lagi di Balitbang makassar. YA ditarik ke Jakarta menjadi peneliti di Puslitbang Lektur Keagamaan dan Kepala Balitbang baru segera dilantik di Jakarta, “Siapa orang yang “beruntung” itu? Dialah Alwy Amin. Bayangkan, bagaimana desain Allah bekerja. AA pindah ke litbang dengan dada tegap dan wajah penuh kemenangan.

Tapi apa kesan AA selama lebih dua tahun memimpin litbang? Ya, relatif standar. Namun,  dicatat, ia juga sangat familier bagi stafnya. Ia juga lebih banyak di ruang kerjanya pada hari kerja. Tapi, responsnya yang cepat terhadap keluhan karyawan khususnya masalah kepegawaian merupakan ciri khasnya yang patut diapresiasi.

Di ujung kiri meja kerjanya, stand by pesawat telepon yang siap diangkat bila ada karyawan yang membutuhkan informasi terkini tentang nasib kepegawaian mereka  Sebagai salah seorang pendampingnya,  menurut saya, kontribusi terbesarnya ke balitbang, adalah sikap santunnya, dan kemampuannya beradaptasi ketika berada di lokasi penelitian.

Secara ideologis, AA adalah warga Muhammadiyah, tetapi dengan jiwa besar bisa beradaptasi dengan tradisi Sunni a la NU. Di Kecamatan Leihitu Maluku Selatan, ia ikut bersama kami (saya dan Kadir Ahmad) menghadiri barzanji wanita setempat pada malam Jumat. Ia duduk bersama kami. Mengikuti ritme acara. Duduk, berdiri, dan duduk lagi.

Kepada saya setelah acara usai, ia mengaku terharu, bagaimana wanita muslim Pedesaan Leihitu mengungkapkan rasa cinta mereka terhadap agungnya tradisi sunni Islam Nusantara. (aL)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.