Sat. Sep 26th, 2020

BLAM

KEREN

“Orang Papua dan PNG Punya Identitas Ganda”

5 min read

Peneliti berbincang-bincang dengan warga di kampung Skow Yambe, perbatasan Indonesia dengan PNG kota Jayapura. Foto: M. Irfan

580 total views, 2 views today

*Menelusuri Perbatasan Indonesia – PNG (bagian 2, selesai) 

Oleh: Muh. Irfan Syuhudi

MUARA Tami sendiri diambil dari nama sebuah kali (sungai) yang memang dikenal dengan nama Tami, yang mengelilingi wilayah ini. Tami kemudian diabadikan menjadi nama sebuah distrik, yang diidentikkan dengan wilayah perbatasan di Kota Jayapura. Hal ini disebabkan, lokasi Indonesia dengan negara Papua Nugini (PNG) masuk wilayah distrik ini.

Secara geografis, tapal batas negara Indonesia – PNG masuk ke dalam wilayah Kampung Mosso. Dari lima distrik di Kota Jayapura, Muara Tami merupakan distrik terluas, yaitu mencapai 626,7 Km2, sedangkan terkecil adalah Distrik Jayapura Selatan, yaitu 43,4 Km2.

Relasi sosial antara masyarakat perbatasan dengan PNG cukup dekat. Di antara mereka punya hubungan saudara kandung dan kerabat. Bahkan, dalam sepekan, mereka membagi waktu mereka tinggal di Mosso dan PNG.

“Kami hampir setiap bulan jalan-jalan bertemu saudara dan keluarga di PNG. Atau, kalau tidak, gantian mereka yang mengunjungi kami di sini. Kalau Natalan selalu ramai,” kata salah seorang penduduk di perbatasan.

Fenomena seperti ini banyak terjadi di Kampung Mosso, di mana warganya setiap hari Senin hingga Kamis beraktivitas di Mosso, sedangkan Jumat sampai Minggu, bermalam di PNG. Faktor ini pula yang menyebabkan sejumlah warga di Mosso mengantongi identitas ganda, yakni Kartu Tanda Penduduk (KTP) Indonesia dan KTP PNG, serta berkewarganegaraan Indonesia dan PNG.

Menariknya, bukan hanya orang Indonesia yang punya identitas ganda. Orang PNG pun demikian. Bagi orang Papua di perbatasan, kartu identitas tersebut dinamakan “kartu lintas batas” dan berwarna merah. Sedangkan untuk orang PNG disebut “kartu kuning”. Kartu ini digunakan dan dipakai apabila mereka ingin melintasi batas negara.

Meski begitu, tidak semua orang Papua atau PNG bisa memperoleh kartu lintas batas tersebut. Bagi orang luar, termasuk suku lain di Papua, mereka terlebih dulu memiliki paspor untuk dapat masuk ke wilayah PNG.

Seorang informan menyatakan, kepemilikan dua identitas itu merupakan kesepakatan antara pemerintah Indonesia dengan PNG. Mereka yang punya kartu lintas batas adalah mereka yang punya tanah di Indonesia dan PNG. Misalnya, orang Indonesia yang memiliki tahah di PNG, dan begitupula sebaliknya, orang PNG punya tanah di Indonesia.

Salah satu orang Mosso adalah pemilik tanah ulayat di tapal batas negara, termasuk pintu gerbang Indonesia-PNG. Namanya, Sostenes. Ia seorang ondoafi (kepala suku). Sebagian tanah ulayat Sostenes masuk ke dalam wilayah Indonesia, dan sebagiannya lagi masuk ke wilayah perbatasan PNG di Wutung.

Ketika Presiden Jokowi ingin membicarakan masalah tanah di tapal batas negara, orang nomor satu di Indonesia itu, mengundang Sostenes ke Istana Negara. Sostenes termasuk salah satu yang memiliki identitas ganda (WNI dan warga negara PNG). Ondoafi Sostenes juga mendirikan rumah buat saudara dan kerabatnya di PNG di Kampung Mosso.

Bagi orang Indonesia yang memiliki identitas ganda (Indonesia dan PNG), ini semata-mata untuk memudahkan akses mereka melintasi masuk ke wilayah PNG. Menurut masyarakat setempat, bila disuruh memilih antara menjadi orang Indonesia atau PNG, masyarakat Indonesia yang bermukim di perbatasan serentak memilih tetap menjadi WNI.

Orang Mosso masuk ke dalam suku Skow. Ketika berkomunikasi, orang Skow dan orang PNG menggunakan tiga bahasa, yakni bahasa Inggris Pidjin (bahasa resmi PNG), bahasa Skow, dan bahasa Melayu (Indonesia). Hal ini berbeda dengan penduduk di Koya Barat, Koya Timur, dan Koya Tengah, yang kurang memahami bahasa Pidjin, karena meskipun orang asli Papua, namun bukan berasal dari suku Skow.

Skow tidak hanya nama sebuah kampung, melainkan juga nama suku, dan memiliki bahasa tersendiri, yaitu bahasa Skow. Suku Skow dipimpin oleh seorang Ondoafi Besar Skow, Abisairolo.

Menurut Richard Awe, warga di Skow Yambe, ia punya banyak kerabat di PNG. Dalam sebulan, mereka pasti saling mengunjungi. Kalau bukan ia dan keluarganya ke PNG, keluarga mereka di PNG yang mendatangi rumahnya. Bahkan, beberapa kerabat Richard yang sebelumnya warga negara Indonesia, beralih menjadi warga negara Papua Nugini.

“Waktu selesai kuliah di Fakultas Hukum Uncen (Universitas Cendrawasih Jayapura), ia jalan-jalan mengunjungi keluarga di PNG (Papua Nugini). Rupanya, ia tertarik masuk politik. Sekarang ini, ia menjadi anggota dewan di PNG. Sedangkan ada juga keluarga lain pindah warga negara karena menikah dengan orang PNG,” kata Richard.

Dalam kasus kerabat Richard di atas, kita dapat memilah menjadi dua bagian. Untuk kasus pertama (menjadi anggota dewan), ia melihat peluangnya untuk menjadi anggota dewan di Papua Nugini cukup besar ketimbang di Indonesia.

Artinya, dari segi pendidikan dan intelektual, kerabat Richard dapat dikatakan lebih unggul dari orang Papua Nugini. Dan, ini juga dikatakan Richard, yang didasarkan pada pengalamannya berinteraksi dengan orang Papua Nugini, bahwa pendidikan orang Indonesia diakui tampak lebih maju dibanding orang Papua Nugini.

Jadi, masalah pindah warga negara dalam kasus ini adalah adanya peluang atau kesempatan yang lebih besar untuk memperoleh pekerjaan, serta kurangnya kompetitor di dunia kerja. Sayangnya, Richard tidak menyebutkan berapa gaji kerabatnya yang menjadi anggota dewan di Papua Nugini itu, sehingga tidak bisa dijadikan perbandingan dengan anggota legislatif di Indonesia.

Untuk kasus kedua, kerabat perempuan Richard memilih menjadi warga negara Papua Nugini, karena faktor pernikahan. Ia menikah dengan orang Papua Nugini, dan akhirnya mengikuti kewarganegaraan suami. Pernikahan antara orang Indonesia dengan Papua Nugini termasuk jarang terjadi. Kalau pun ada, ini merupakan salah satu upaya untuk mempererat kembali jalinan tali kekerabatan, yang dipandang nyaris terputus.

Dari tingkat kesejahteraan, Indonesia juga tampak lebih maju ketimbang Papua Nugini. Hal ini diperkuat dengan pengakuan beberapa masyarakat Indonesia di perbatasan yang menolak pindah kewarganegaraan. Saat ditanyakan mengapa menolak, mereka kompak menjawab,”Lebih enak tinggal di Indonesia. Jalan-jalan dan gedung-gedung di Indonesia lebih bagus-bagus dan lebih maju. Kehidupan masyarakat kita juga lebih sejahtera.”

Sebuah pasar di tapal batas negara Indonesia – PNG menjadi salah satu ruang untuk melakukan interaksi antara orang Indonesia dengan orang PNG. Pada hari-hari pasar, yaitu Selasa, Kamis, dan Sabtu, pasar yang dikenal dengan Pasar Wutung ini, selalu ramai oleh orang-orang yang ingin berbelanja. Tidak hanya penduduk Indonesia yang bermukim di daerah perbatasan, melainkan juga orang PNG yang secara khusus melintas ke wilayah Indonesia.

Selain kebutuhan sehari-hari, seperti sayur, buah-buahan, dan bumbu dapur, orang-orang PNG juga kerap membeli material bahan bangunan, seperti pipa, kunci-kunci, dan sebagainya. Bahan material tersebut ada yang dipakai sendiri, tetapi ada juga yang menjual ke negaranya, karena harga belinya lebih murah.

Yang menarik juga adalah ketika berlangsung pelaksanaan 17 Agustus-an. Setiap kali ada perlombaan memperingati hari kemerdekaan Indonesia, hampir semua kelurahan/kampung mengadakan perlombaan. Pada acara ini, orang PNG yang kebetulan berada di wilayah perbatasan, ikut pula mengikuti perlombaan.

Saya beberapa kali mendengar anak-anak Papua (usia SD) berbicara dengan sesama mereka menggunakan bahasa Indonesia. Karena penasaran, saya lalu mencoba bertanya siapa namanya, di mana mereka bersekolah, dan siapa nama Presiden Indonesia, menggunakan bahasa Indonesia. Mereka semua menjawab cukup bagus.

Setidaknya, dalam percakapan ini, saya dan mereka saling nyambung. Anak-anak ini juga tahu lagu Indonesia Raya, meski ada yang hapal cuma setengah. Sebagian orang tua, terutama yang pernah mengenyam pendidikan minimal SMP, ikut berkontribusi terhadap penggunaan bahasa Indonesia, dan pengenalan bangsa Indonesia. Para orang tua umumnya mempraktikkan bahasa Indonesia di dalam keluarga mereka. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.