Fri. Sep 25th, 2020

BLAM

KEREN

Cegah Radikalisme di Balikpapan

3 min read

Peneliti bersama Peserta Workshop Pencegahan Radikalisme di Sekolah Umum Foto: Asnandar

296 total views, 2 views today

BLAM, MAKASSAR – Peneliti Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan (Penda) Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar mengadakan workshop pembahasan draft awal Modul Pencegahan Radikalisme di Sekolah Umum, di Hotel Aston Balikpapan, Kalimantan Timur, 26 – 27 Juni 2019.

Orientasi kegiatan ini adalah merumuskan dan menyusun alternatif bahan ajar dalam bentuk modul pelajaran pendidikan agama Islam sebagai salah satu sumber belajar peserta didik, dan upaya deradikalisasi melalui pembelajaran dalam rangka membendung faham radikalisme pada lembaga pendidikan.

Demikian disampaikan Ketua Panitia Pelaksana Kegiatan, Ilham, yang juga Kasubbag Tata Usaha Balai Litbang Agama Makassar.

Peserta kegiatan ini adalah guru-guru agama dari Sekolah Menengah Atas Balikpapan, jajaran Kementerian Agama Balikpapan, Peneliti Balai Litbang Agama Makassar, dan Pengurus Jaringan Gusdurian Balikpapan.

Kepala Balai Litbang Agama Makassar, H. Saprillah, M.Si, menegaskan, radikalisme agama merupakan isu menarik sejak berakhirnya Orde Baru. Sederet peristiwa yang mengatasnamakan agama, dan disertai perusakan rumah ibadat diduga kuat akibat kehadiran kelompok yang menganut paham radikal.

“Dampak dari paham radikal itu adalah terjadinya berbagai peristiwa sosial, seperti bom Bali, bom di gereja, dan bom bunuh diri atas nama jihad. Belum lagi konflik yang mengatasnamakan agama,” kata Saprillah.

“Yang mengejutkan, gerakan yang meresahkan kita semua ini dilakukan oleh orang-orang dengan menggunakan ajaran Islam sebagai spiritnya. Islam dikaitkan gerakan radikalisme, sehingga menyebabkan Islamofobia di Barat. Ini penting bagi kita untuk mengurainya. Apalagi, skala yang sifatnya lokal seperti ini mulai merambah ke anak-anak muda,” sambung Saprillah.

Untuk menguji apakah anak-anak muda radikalis atau tidak, lanjut Saprillah, seorang mantan teroris membagikan pengalaman dengan memberikan pertanyaan sederhana kepada calon kadernya, seperti apakah Anda memilih Nabi Muhammad atau Presiden Jokowi, dan apakah memilih Alquran atau Pancasila.

“Kalau memilih jawaban Nabi Muhammad dan Alquran, maka anak tersebut dipastikan berpontensi untuk direkrut,  karena tidak kritis terhadap pertanyaan. Nabi Muhammad tidak bisa dibandingkan Jokowi, dan begitupula sebaliknya, Alquran dan Pancasila tidak sebanding. Yang ingin diuji adalah sifat kritis dari anak-anak muda tersebut,” kata Saprillah.

Radikalisme muncul dari anak-anak kurang kritis. Cara seperti ini biasa digunakan oleh psikolog, dengan memakai teori Victor Frankl yang disebut logo terapi, yaitu mengubah cara pandang seseorang melalui bahasa. Sangat penting untuk mengembangkan sikap zero tolerance to radicalism atau deradikalisasi.

“Salah satu programnya adalah menyusun modul pencegahan radikalisme di sekolah, membangun kekuatan bersama, dan memikirkan cara terbaik sampai pada titik zero to radicalism. Fundamentalis adalah sebuah sikap yang memahami agama secara tekstual tanpa kemampuan kritik dan dialektika dengan realitas sosial,” kata Saprillah, lagi.

Kepala Tata Usaha, Izzat Sholihin, yang mewakili Kepala Kantor Kementerian Agama Balikpapan, menyambut positif kegiatan ini. Menurutnya, kegiatan ini merupakan bagian dari tafaqquh fiddin, dan salah satu upaya deradikalisasi.

Gambaran sosial keagamaan di Balikpapan dari beberapa hasil penelitian menemukan, sebanyak 34 responden siswa memiliki opini intoleransi terhadap agama lain. Sebanyak 40% siswa tidak setuju dipimpin oleh orang berlainan agama, 48,9% siswa tidak bergaul dengan pemeluk agama lain, dan 58% memiliki pandangan keagamaan dengan opini radikal.

“Olehnya itu, kami menganggap modul yang akan dibuat oleh Peneliti Balai Litbang Agama Makassar ini sangat bermanfaat bagi anak-anak didik, dan akan bagus diterapkan tidak hanya pada Kalimantan Timur, tetapi juga di daerah lainnya di Indonesia,” kata Izzat Sholihin.

Koordinator kegiatan, Dr. Muhammad Rais, menjelaskan, modul ini lahir dari beberapa rekomendasi penelitian Balai Litbang Agama Makassar. Kegiatan ini diproyeksikan untuk ikut memberikan sumbangsih dalam rangka membendung infiltrasi paham radikalisme pada lembaga pendidikan, dan sebagai upaya menguatkan moderasi beragama pada peserta didik.

“Persoalan radikalisme sampai sekarang belum hilang, meskipun sudah dilakukan pendekatan soft approach dan hard approach. Soft approach inilah yang dilakukan Balai Litbang Agama Makassar dengan membuat modul pencegahan radikalisme di sekolah,” papar Rais.

Modul ini diharapkan bersifat self instructian, sehingga dapat dijadikan bahan ajar sendiri bagi siswa, dan sudah bisa memahami tujuan yang akan dicapai pada modul.

Saat sesi tanya jawab, seluruh peserta yang mengikuti kegiatan ini terlihat aktif. Selain menceritakan pengalaman, mereka juga sepakat untuk menekan paham agama yang mengarah pada radikalis di kalangan anak-anak sekolah. (dal)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.