Sat. Sep 26th, 2020

BLAM

KEREN

“Jalanan Mulus, Harga Makanan, dan Bensin Eceran Normal”  

4 min read

Perbatasan Negara Indonesia dan Papua Nugini (PNG) (M.Irfan)

452 total views, 2 views today

*Menelusuri Perbatasan Indonesia – Papua Nugini (bagian 1)

Oleh: Muh. Irfan Syuhudi

SELASA pagi hingga sore, 18 Juni 2019, saya menelusuri kelurahan dan kampung di wilayah perbatasan Indonesia dengan Papua Nugini atau Papua New Guinea (PNG). Wilayah perbatasan negara ini secara geografis masuk Distrik (Kecamatan) Muara Tami, Kota Jayapura.

Ada delapan kelurahan dan kampung di distrik ini, yaitu Koya Barat, Koya Timur, Holtekam, Skow Yambe, Skow Mabo, Skow Sae, Koya Tengah, dan Mosso. Kampung Mosso adalah daerah yang wilayahnya berbatasan langsung dengan negara PNG.

Dibonceng Yulianus, senior di Unhas, yang juga mantan aktivis PMKRI Makassar, saya begitu menikmati pemandangan. Hampir di sepanjang perjalanan, kawasan ini dipenuhi hutan lebat pada bagian sebelah kiri dan kanan. Semua jalanan juga beraspal mulus dan bersih. Sungguh perjalanan yang menyenangkan.

Padahal, saya sempat membayangkan, perjalanan yang ditempuh sekitar dua jam ini, akan terasa berat. Bakal banyak ditemui lubang-lubang, serta kerikil-kerikil kecil berhamburan di jalan. Saya juga membayangkan, kehidupan masyarakat di daerah perbatasan masih jauh dari kesan “peradaban”. Namun, apa yang saya bayangkan itu, ternyata tidak seperti itu.

Saat mampir dan mengobrol dengan masyarakat setempat di rumahnya, seperti Ibu Maria di Koya Tengah, Pak Markus di Skow Mabo, Pak Richard di Skow Yambe, dan Ibu Elisabet di Masso, jalanan yang kami lewati menuju rumah mereka cukup lebar.

Meski berukuran dua sepeda motor, tetapi jalanan sudah beraspal beton. Betul-betul “mulus”. Penduduk baru merasakan kondisi jalanan seperti ini sejak tiga tahun terakhir, di era pemerintahan Joko Widodo – Jusuf Kalla.

Begitupula, bayangan saya akan menemui satu-dua orang lokal mengenakan baju tradisional khas Papua, Koteka, ternyata sama sekali tidak terbukti. Sepanjang perjalanan dan singgah di beberapa rumah penduduk, mereka juga berpakaian sama seperti masyarakat Indonesia pada umumnya.

Saya memang kurang mengikuti perkembangan infrastruktur di Kota Jayapura, terutama jalanan menuju wilayah perbatasan negara ini. Namun, jika melihat kondisi jalanan seperti ini, saya meyakini penduduk yang berdomisili di wilayah tersebut, pastilah senang. Para pelancong yang ingin berfoto-foto di tapal batas negara, juga pasti merasa gembira.

Sayangnya, saya belum melihat ada tiang lampu penerangan terpasang di hampir semua jalan raya tadi. Jadi, saya bisa bayangkan, suasana melewati jalanan ini pada saat malam hari tentu menyeramkan.

Selain itu, belum tersedia transportasi angkutan umum untuk masuk dan keluar wilayah ini, tentu menyulitkan penduduk yang belum punya kendaraan pribadi, apabila ingin ke ibukota distrik dan ibukota provinsi

 

***

Setelah beberapa kali mampir di rumah penduduk, kami tiba di tapal batas negara sekitar pukul 13.10 WIT. Kami langsung mencari warung makan yang ada di pinggir jalan. Saya melihat, di setiap warung yang berjejer di pinggir jalan, banyak terparkir motor dan mobil. Pemilik kendaraan juga tengah menikmati makan siang di warung tersebut.

Kami memilih makan ayam lalapan. Harganya sama seperti di Makassar, 25 ribu rupiah, dengan menu ayam dan nasi. Padahal, awalnya, saya mengira harganya di atas itu. Demikian pula, bensin “botolan” pertalite satu liter dihargai 10 ribu. Ini termasuk harga normal di tingkat eceran. Padahal, kata teman, ia sempat merasakan membeli bensin “botolan” Rp. 40 ribu hingga Rp. 60 ribu per liter.

Sejak jalanan beraspal mulus, dan akses ke wilayah perbatasan mudah terjangkau oleh kendaraan mobil dan motor, harga barang-barang perlahan-lahan turun, dan mengikuti harga normal. Sebaliknya, saat kondisi jalanan belum “mulus” seperti sekarang ini, para penjual kerap menaikkan harga barang dagangan mereka dengan memperhitungkan ongkos transportasi dan medan berat yang dilalui.

Di depan warung yang kami tempati makan terlihat beberapa orang dewasa, laki-laki dan perempuan. Mereka nongkrong sambil mengobrol setelah membeli soft drink dingin, roti, dan rokok.

Awalnya, dengan melihat ciri-ciri fisiknya, saya mengira mereka orang Papua. Namun,
seorang kawan memberitahu kalau mereka semua itu orang PNG. Sebab, ia mengerti apa yang mereka perbincangkan.

“Bahasa orang-orang PNG dan bahasa orang Skow itu memang mirip. Cuma dialeknya yang berbeda. Itu pun cuma sedikit. Jadi, kalau orang PNG dan orang Skow berbicara, mereka saling mengerti,” kata teman. PNG sebutan familiar orang-orang Papua Nugini di daerah perbatasan ini.

Menurut ensiklopedia, Papua Nugini yang berpenduduk 6 juta jiwa, termasuk salah satu negara paling bhinneka di dunia.

Negara yang terletak di bagian timur pulau Papua, dan berbatasan darat dengan Provinsi Papua di sebelah barat, Benua Australia di sebelah selatan, dan negara-negara Oseania berbatasan di sebelah selatan, timur, dan utara, serta beribu kota Port Moresby, ini memiliki 850 bahasa lokal asli, dan sekurang-kurangnya sama banyaknya dengan komunitas-komunitas kecil yang dimiliki.

Pada hari itu, banyak orang PNG berada di dalam wilayah Indonesia. Selain jalan-jalan, mereka juga makan di warung-warung, belanja pakaian di toko, dan keperluan dapur di Pasar Wutung. Pemandangan seperti ini merupakan hal lumrah tiap kali memasuki “hari pasar”, yaitu Selasa, Kamis, dan Sabtu.

Pasar ruko (rumah toko) ini berada tak jauh dari tapal batas. Wilayah Wutung sebagian masuk wilayah Indonesia, dan sebagiannya lagi Papua Nugini. (*/bersambung)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.