Sat. Sep 26th, 2020

BLAM

KEREN

Rohis Dahulu, Islam Radikal (Damai) Kemudian

3 min read

Dokumentasi Kegiatan Penguatan Wawasan Isra dan Multikultural Siswa SMA Ang. II di Same Hotel Makassar. (Syamsurijal)

581 total views, 4 views today

Oleh: Syamsurijal

DIA duduk paling depan. Sedikit menonjol di tengah kerumunan itu dengan parasnya yang ayu. Dalam usia relatif muda; remaja SMA, raut wajahnya jelas terlihat polos. Tetapi, saya sedikit kaget ketika ia melontarkan pertanyaan, atau tepatnya pernyataan.

Begini katanya: “Menurut murabbiku (pembimbingku), mengucapkan selamat hari raya bagi pemeluk agama selain Islam hukumnya haram!”

Saya mengangguk, lalu saya katakan, “Memang sebagian ulama ada yang mengharamkan, tetapi tidak sedikit pula yang membolehkan.” Saya sengaja memberi jeda sejenak sembari memperhatikan reaksinya. Kemudian, saya bertanya lagi, “Siapa murabbinya? Apakah punya organisasi?” Dia pun menyebut organisasi murabbinya. “Pantas!”  Organisasi ini memang puritan dan eksklusif,” batinku.

Saya kemudian menyarankan untuk belajar agama tidak hanya dari satu sumber, tetapi dari ulama-ulama lain. Misalnya, dari NU dan Muhammadiyah. Tak disangka, perempuan berwajah ayu ini menyambar dengan ucapannya. “Saya telah bertanya pada ustad selain dari murabbiku pada saat ada seminar. Dan, jawaban mereka semua sama.”

“Jangan-jangan… Ustadnya juga dari organisasi yang sama?” tanyaku, memancing. Ia pun mengangguk kepala tanda mengiyakan.

Itulah salah satu cerminan dialog saya dengan salah satu peserta pelatihan bagi para pengurus Rohis (Rohani Islam) yang diadakan Kementerian Agama Pusat. Tidak hanya peserta yang kemayu tadi yang memiliki pandangan keagamaan demikian.

Peserta lain pun seirama. Mereka terkesan anti terhadap agama berbeda dan tidak bisa menerima kelompok minoritas Islam semacam Syiah dan Ahmadiyah hidup di negara Indonesia. Ketika ditanyakan latar belakang murabbinya, ternyata berputar pada organisasi yang berpaham eksklusif dan radikal.

Dalam beberapa penelitian sebelumnya, misalnya penelitian Ma’arif Institute, disebutkan adanya kecenderungan penguatan Islamisme (Islam radikal) di kalangan pelajar SMA se-Jabodetabek. Kelompok Islamis di SMA ini kebanyakan digembleng pendidikan agama di Rohis oleh organisasi radikal. Tidak jauh berbeda dengan organisasi yang disebut-sebut oleh  siswi yang kemayu tadi.

Dalam  penelitian kami di Litbang Agama Makassar, hal serupa juga ditemukan. Ada kecenderungan siswa siswa SMA yang aktif di Rohis mengalami perkembangan pemikiran keagamaan radikal.

Radikalisme agama memang menyasar kaum muda, khususnya para siswa SMA. Syafii Mufid  bahkan menemukan  60% lebih eksekutor bom dari kelompok terorisme berpendidikan SMA. Sementara di SMA, Rohis inilah yang dijadikan tempat penyemaian radikalisme agama. Konon, Dita Oepriarto, pelaku bom bunuh diri dari Surabaya  itu, dulunya adalah aktivis Rohis.

Dalam satu penelitiannya, Gerry Van Klinken, menjelaskan, kaitan antara variabel usia dengan kecenderungan paham radikal-fundamentalis. Salah satu kesimpulan dari penelitain tersebut menyatakan, usia di bawah 24 tahun cenderung lebih fundamentalis dibanding yang berumur di atas 55.  Dengan kata lain, radikalisme justru cenderung menimpa kalangan muda.

Lantas mengapa kaum muda yang menjadi sasaran dari gerakan radikalisme agama ini? Najib Azca melihat hal ini sebagai problem psikologis. Anak muda, demikian Azca, masih dihinggapi kegamangan identitas pemuda. Kegamangan ini menjadikan seorang anak muda dengan gampang mengalami, dalam istilah Wiktrowicz, “pembukaan kognitif”.

Artinya, seorang anak muda yang mengalami ketidak-pastian identitas dan sedang melakukan pencarian jati diri, sangat mudah menerima ide-ide baru yang cenderung heroik, tidak lazim (di luar mainstream), dan radikal.

Selain itu, terbukanya jaringan melalui dunia internet membuat kalangan muda gampang berjejaring dengan berbagai kalangan dan juga beragam pengetahuan. Termasuk, dalam hal ini, pengetahuan agama. Sayangnya, pengetahuan agama yang berasal dari dunia internet, tidak hanya dangkal, tetapi juga didominasi oleh tulisan dari kelompok Islamis. Sedikit banyaknya hal ini memengaruhi pengetahuan agama kalangan anak muda ini.

Namun, yang tak kalah petingnya, kalangan muda memang menjadi target dari kelompok-kelompok radikal. Kelompok ini sengaja melakukan infiltrasi ke organisasi keagamaan sekolah seperti Rohis. Kelompok radikal tersebut menyasar sekolah-sekolah umum, di mana para siswanya minim pengetahuan agama. Dalam banyak kasus di Indonesia, cara-cara ini telah berhasil memengaruhi kalangan muda dan mengubah cara pandang keagamaan mereka.

Situasi ini membuat kita semua tidak boleh tidur. Langkah  deradikalisasi Rohis seperti yang  ditempuh kementerian agama selama ini perlu dilakukan oleh berbagai kalangan. Jika kementerian agama menempuh jalur struktural, organisasi keislaman moderat bisa menempuh dengan menyiapkan kader-kadernya menjadi mentor di berbagai Rohis. Siapkan berbagai model pelatihan keislaman moderat yang menyenangkan bagi para Rohis.

Bagaimanapun, saat ini  Rohis adalah koenci!  Dengan Rohis hari ini bisa radikal esok harinya, tetapi sebaliknya, bisa pula menjadi muslim yang cinta damai. Tergantung siapa dan bagaimana penggodokannya. (*)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.