Sat. Apr 4th, 2020

BLAM

KEREN

Peneliti Ahli Utama ke Pulau Sebatik

2 min read

Suasana Diskusi di Aula BLAM Lt. 3

144 total views, 2 views today

BLAM, MAKASSAR – Setelah sepekan lamanya melakukan studi awal (penjajakan), lima Peneliti Ahli Utama (PAU) Balai Litbang Agama Makassar, akhrinya menyepakati melanjutkan lokasi penjajakan mereka menjadi lokasi penelitian. Hal itu diutarakan saat menyajikan temuan penjajakan di aula kantor, Senin, 23 Juni 2019.

Pada penelitian kali ini, Tim PAU merencanakan “memborongi” satu lokasi dengan mengambil tema besar, yaitu “Pendidikan Agama dan Keagamaan di Tapal Batas” di Kabupaen Nunukan, Kalimantara Utara.

Koordinator Penelitian, Prof. Dr. H. Hamdar Arraiyah, menyatakan, setelah menjajaki lokasi penelitian, mereka akan mengubah temanya. Yang tadinya menyangkut “Pendidikan Agama dan Keagamaan di Tapal Batas”, selanjutnya berubah menjadi “Pendidikan Keagamaan dan Komunitas Santri di Pulau Sebatik.”

“Meski kami mengubah tema besarnya, namun substansi penelitian tidak berubah, yaitu tetap mengacu kepada pendidikan agama dan keagamaan,” kata Hamdar.

Menurut Hamdar, ada sebagian masyarakat di Pulau Sebatik menginginkan daerah mereka dijadikan daerah santri. Komunitas santri di Pulau sebatik dimaksudkan adanya hubungan timbal balik. Komunitas muslim merintis, lalu memajukan menjadi komunitas santri (madrasah diniyah, MI, MTs, MA, lalu ke tahfiz, majelis taklim).

“Hubungan timbal baliknya adalah memajukan pendidikan keagamaan, bahkan formalnya seperti madrasah aliyah yang mengalami peningkatan dan saling mendukung, sehingga memberikan pemahaman agama yang kuat kepada masyarakat,” jelas Hamdar.

Peneliti lain, Prof. Dr. H. Kadir Ahmad, mengurai tentang “Komunitas Muslim di Daerah Sebatik, yang lebih pada kajian antropologisnya. Menurutnya, daerah perbatasan sebagai basis utama pembangunan pemerintah tertuang dalam Nawacita. Daerah perbatasan sebagai security dan prospect (pendekatan keagamaan).

“Yang perlu dilakukan untuk meningkatkan keamanan dan kesejahteraan daerah perbatasan adalah melalui penguatan desa. Sebatik adalah salah satu daerah perbatasan, yang masuk dalam batas terluar dalam satu negara,” kata Kadir Ahmad.

Lain halnya Dr. H. Kadir Massoweang. Ia menguraikan tentang lembaga dan sarana pendidikan keagamaan yang mengalami kemajuan dibanding kecamatan, dan kabupaten lainnya.

Sementara itu, Prof. Dr. H. Arifuddin Ismail dan Dr. H. Idham, mengamati lokasi penelitian berbeda. Arifuddin yang menyusuri TPQ Al-Fath di Sebatik Tengah, menemukan, masih terdapat beberapa problem sosial keagamaan di sana. Misalnya, penyebaran narkoba, perdagangan barang antarnegara tidak terkontrol, adminsitrasi perkawinan tidak berjalan normal, pendidikan anak-anak TKI tidak terurus baik, serta keterbatasan SDM.

“Problem sosial keagamaan ini dapat diantisipasi melalui pendidikan agama dan keagamaan sebagai gerakan sosial,” kata Arifuddin.

Idham menekankan pada metode dan teknik pembelajaran pendidikan keagamaan Islam di Desa Sungai Nyamuk. Ia rencananya menyasar lembaga pendidikan di Pulau Sebatik, seperti pesantren dan yayasan pendidikan Islam lainnya.

“Kami juga akan juga menelusuri beberapa literatur yang berkenaan metode dan teknik pembelajaran yang digunakan pada pesantren di Pulau Sebatik,” jelas Idham.

Sebelumnya, Kepala Balai Litbang Agama Makassar, H. Saprillah, M.Si, menyatakan, penelitian ini menjadi isu menarik, karena ada dua hal yang ingin dilihat secara mendalam, yaitu konteks pendidikan keagamaan dan isu kebangsaan.

Setelah penjajakan, Tim PAU Balai Litbang Agama Makassar berangkat ke lokasi penelitian selama 15 hari, 27 Juni – 11 Juli 2019.  (sa/ir)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.